Showing posts with label gram. Show all posts
Showing posts with label gram. Show all posts

Monday, September 15, 2014

Confession About My Money; Rahmat Tri Hariadi

Rahmat Tri Hariadi. Foto selfie, entah di ambil di mana.

Ini dia “September Winner” kita, namanya Rahmat. Dari pertama kenal, kami biasanya manggil Memet, jarang banget manggil Rahmat. Sama dengan Dokter Pink, Rahmat ini teman satu angkatan prajab. Meski tidak pernah satu kantor, biasanya kami kumpul buat acara ngopi-ngopi dan mencoba kuliner baru. Eh itu dulu dink ;-)

Rahmat lahir di Sleman, pada tanggal 3 Juli. Cowok Cancer ini lahir, besar dan menghabiskan seluruh hidupnya di Yogyakarta. Rahmat merupakan alumni SMA 6 Yogyakarta, lalu melanjutkan studinya ke S1 Akuntansi UII Yogyakarta.

Berikut hasil obrolan singkat saya dengan Rahmat.

Masih ingat tidak penghasilan pertamamu dan uangnya dipakai untuk apa?

Sekitar tahun 2009, waktu itu kalau tidak salah gaji awal baru sebesar Rp 1,7 juta. Uangnya ditabung. Tapi kalau rapelan gajinya untuk beli handphone baru.

Dari seluruh penghasilanmu, berapa prosen untuk investasi?

Waktu awal kerja tanpa investasi. Setelah itu, 50% di simpan untuk tabungan. Kalau sekarang sih 20% pasti disimpan untuk investasi.

Investasi pertama untuk apa, met?

Beli tanah. Tapi belinya tidak murni dari gajiku sih, ada banyak subsidi dari yang lain.

Kalau untuk kebutuhan sehari-hari, pengeluaran paling besar untuk apa?

Untuk bensin dan makan. Untuk bensin tiap bulan aku harus menyediakan Rp 400 ribu.

Apakah sampai menghabiskan 50% dari penghasilanmu, met?

Kalau untuk kondisi keuanganku saat ini, iya! Sampai menghabiskan 50% dari penghasilanku. Uangku habis lebih banyak untuk ganti handphone, jajan, dan uang gahul.

Aku masih punya tanggungan kredit juga. Jadi sekarang hidup tiap bulan pake uang honor. Kalau honor tidak keluar, wah bisa koma aku ;-)

Tapi masih bisa investasi kan?

Kalau dulu, uang aku depositokan, tapi sekarang ya cuma ikut arisan emas ini ajah. Tabungan dan deposito sudah habis buat beli rumah, dengan subsidi juga.

Kalau begitu, semua investasimu dalam bentuk tanah dan rumah ya?

Iya. Tapi tanahnya itu investasi sebagai dana untuk beli rumah.

Maksudmu tanahnya mau dijual juga?

Iya dijual. Tanah untuk investasi, misal saja tanahnya terjual 2x dari harga beli, kan uangnya bisa untuk beli rumah yang luasnya 100-an meter persegi saja.

Kamu ikut investasi yang lain tidak, misal ikut asuransi, unitlink atau yang lain?

Tidak ikut.

Bagaimana sih pengetahuanmu tentang invetasi?

Kalau pengetahuan investasi didefinisikan tentang reksadana atau tabungan dollar, pengetahuanku minim. Aku lebih suka investasi praktis semacam tanah, rumah, ruko atau emas. Memang lama, tapi sekali cocok bisa beberapa kali lipat hasilnya.

Punya tidak hobby yang paling banyak menghabiskan tabungan? Untuk hobby ini, bisa menghabiskan berapa prosen dari tabunganmu?

Ada. Ganti gadget. Tidak pernah pakai prosentase, minimal aku sisakan Rp 5 juta di tabungan.

Kenapa ikut arisan emas? Emasnya untuk keperluan apa?

Aku mengikuti saranmu, kalau ada uang menganggur untuk investasi emas. Mungkin emasnya akan kujual untuk ganti handphone baru yang aku inginkan.

Obsesi Rahmat ke depan apa?

Ingin buka bisnis sampingan, café atau tempat makan, untuk memperkecil ketergantungan financial terhadap gaji. Ya, didoakan saja diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Amiin.

*Rahmat Tri Hariadi. September 2014. Pemenang ke-6 Arisan Emas Antam. Pemilik resmi akun twitter @lancemaksi dan path @lancemaksi. Selamat Berkenalan ;-)

Monday, August 11, 2014

Confession About My Money; Pipit Damayanti


Pipit Damayanti. Foto oleh @chechand.
August Winner” kita adalah saya sendiri. Nama saya Pipit. Saya lahir dan besar di Lampung, tepatnya 30 November. Saya berzodiak Sagitarius dan bershio Ayam.

Hampir seluruh hidup saya habiskan di Lampung, di sebuah kampung kecil bernama Pringsewu. FYI, saya muslim sejak lahir ;-) Sejak kecil saya disekolahkan di sekolah Katholik. Namanya juga tinggal di kampung, tidak banyak pilihan sekolah bagus. Saya memiliki teman yang sama dari TK hingga SMP, membosankan sekaligus menyenangkan. Seumur-umur, saya tidak pernah di bully di sekolah, karena semua senior adalah tetangga rumah ;-) Baru kemudian di SMA N 1 Pringsewu, saya mendapat beberapa teman yang sedikit berbeda.

Saat SMP, saya pernah ikut program study tour di sekolah, waktu itu kami diajak berkeliling UGM. Sepulang dari study tour, saya bilang pada orang tua, kelak saya ingin kuliah di UGM. Ide ini ditolak oleh orang tua, karena Bapak saya hanya pegawai rendahan, dianggap tidak mampu menyekolahkan anak hingga ke Pulau Jawa.

Tapi, saya itu anak yang keras kepala. Saya menolak berkompromi, saya bilang pada orang tua; “kalau saya tidak kuliah di UGM, mending tidak usah kuliah saja sekalian”. Kata ibu, dulu saya ditertawakan tetangga karena ide “ingin kuliah di UGM”. Saya baru tahu hal ini, bertahun-tahun kemudian setelah lulus cumlaude dari UGM.

Saya kuliah di Fakultas Hukum UGM. Setelah lulus, saya mencoba bekerja di Jogja. Kota Jogja tidak menawarkan banyak pekerjaan bergaji besar, tapi buat saya, itu lebih baik daripada kerja di kota asal tapi harus “menyogok”. Jadi, inilah saya sekarang, menjadi penghuni tetap kota Jogja. 

Berikut hasil obrolan singkat saya dengan diri sendiri ;-)

Kapan sih pertama kali dapat penghasilan dan uangnya untuk apa?

Penghasilan pertama itu pas jaman kuliah. Waktu itu, saya mengajar di beberapa Bimbel, bayarannya lumayan untuk standar UMR Jogja. Malah jika sedang menjelang SNMPTN, bayarannya bisa melebihi target yang saya bayangkan. Waktu itu dalam satu bulan, saya bisa dapat uang hingga diatas Rp 3 juta. Rasanya senang banget, karena hanya bermodal status “mahasiswa di kampus negeri” bisa dapat uang segitu banyaknya. Tentunya, itu kerja keras. Tiap hari kerja, bahkan sabtu minggu pun kerja. Mengajar sejak jam 07.00 WIB, pulang kerja sekitar jam 21.00 WIB. Saya bahkan dapat job hingga ke luar kota. Perjuangan bangetlah!

13 tahun yang lalu, tidak banyak pilihan buat mahasiswa untuk bekerja paruh waktu. Saya termasuk beruntung karena di beri kepercayaan mengajar di banyak kelas dan di banyak tempat. Bagian menyenangkannya, saya juga dapat tambahan teman tentor, yang ternyata dosen di kampus negeri. Jadi, sebenarnya, malah saya yang dapat banyak tambahan pelajaran.

Awalnya uang hasil mengajar untuk beli buku. Dulu jaman mahasiswa, saya suka sekali membeli buku. Kadang uang kiriman dari orang tua lebih banyak habis untuk membeli buku, daripada habis untuk makan. Biasanya di pertengahan bulan, saya sudah tidak punya uang sepeser pun. Maklumlah, karena keterbatasan ekonomi, orang tua tidak mengirimi saya banyak uang tiap bulan.  

Kalau sudah begitu, biasanya saya pinjam uang ke teman untuk biaya makan sampai akhir bulan. Lama-lama malu juga sama teman, makanya akhirnya mencari pekerjaan tambahan, ya karena tidak punya uang. Huahaha ;-)     

Waktu itu, saya juga punya penghasilan tambahan dari berdagang pulsa dan seprai, kadang kalau lagi musim wisuda saya jualan boneka buat cinderamata. Pokoknya apa ajah dilakukan biar dapat uang. Berdagangnya juga tidak ambil untung banyak, yang penting dagangan laris, saya sudah cukup senang ;-)

Saya juga dapat beasiswa, kadang ikut proyek penelitian dosen dan semacamnya, capek tapi menambah pengetahuan.

Pada akhirnya, uang yang saya hasilkan bisa untuk bayar kost, biaya makan sebulan, beli buku, jalan-jalan, beli kebutuhan perempuan kayak make up-baju-sepatu-tas. Standarlah, seperti keinginan anak muda yang lain. Tapi teteup, paling banyak habis untuk beli buku.

Dari uang penghasilan tersebut, berapa yang diinvestasikan?

Tidak ada! Huehehe ;-) Waktu itu belum kenal sama yang namanya Investasi. Uang bisa cukup satu bulan ajah udah Alhamdulillah. Tidak pernah berpikir yang namanya Investasi dan Menabung.

Jadi, kapan mulai kenal investasi?

Saya itu diterima jadi pegawai Desember 2008, mulai kerja awal tahun 2009. Sekitar tahun 2010, saya mulai berpikir untuk investasi. Penyebabnya sepele. Saya melihat teman-teman seumuran sudah mulai membeli tanah, mobil, dan mulai mencicil kredit rumah. Sedangkan saya kok masih belum punya apa-apa.

Waktu itu, saya mulai berpikir, bagaimana ya caranya, biar uang penghasilan saya tidak habis sia-sia. Saya mulai belajar tentang financial. Belajar otodidak. Sendirian. Makanya lambat. Tidak kunjung naik kelas. Huehehe ;-)

Pelajaraan pertama saya adalah berinvestasi dalam emas batangan. Pertama kali saya bisa membeli kepingan emas 25 gram. Tidak beberapa lama kemudian, saya ingin investasi dalam bentuk beras di koperasi simpan pinjam di kampung saya. Jadi, di koperasi tersebut, transaksinya tidak pakai uang, tapi beras. Kayak barter jaman dahulu kala. Nah, biar bisa ikutan tanam saham, emas saya gadaikan, uangnya saya gunakan untuk ikut investasi di beras.   

Sekitar awal tahun 2011, saya iseng datang ke Bank membuat Dana Pensiun. Setelah kenal yang namanya Dana Pensiun, saya mulai belajar menyimpan uang saya dalam bentuk ORI dan Sukri (Sukuk Ritel). Sistemnya pun sama, saya gadaikan emas biar uangnya bisa disimpan dalam bentuk ORI dan SUKRI. Lalu bunganya tiap bulan masuk rekening. Dari rekening, menggunakan system Autodebet, uang langsung masuk ke Dana Pensiun. Begitu tiap bulan hingga sekarang.

Belajar dari Dana Pensiun, kemudian saya kenal yang namanya Reksadana. Saya pun belajar sambil mencobanya secara langsung. Jadi, teori langsung praktik. Yang terakhir, setahun ini, saya mulai belajar tentang Investasi Saham. Saya juga ikutan investasi di kambing etawa. Pokoknya, apa saja saya coba pelajari. Semuanya belajar sendiri. Modalnya cuma nekat dan rajin baca buku ;-) 

Kalau sekarang, dalam sebulan, dari seluruh penghasilan berapa prosen masuk investasi?

Biasanya tiap awal bulan, saya menyisihkan 20% untuk Dana Pensiun, 20% untuk Reksadana, 20% untuk menebus emas yang saya gadaikan, 20% untuk jualan pulsa, 20% sisanya buat bayar kost, biaya makan, bensin, dan kebutuhan sehari-hari.

Kalau dapat honor dan uang tambahan, biasanya uang saya gunakan untuk tambahan menebus emas yang saya gadaikan. Kalau sisanya masih banyak, uang saya simpan di sekuritas. Kalau saham lagi turun, saya beli sebanyak-banyaknya, kalau harga lagi tinggi saham saya jual, nanti kan dapat untung dari trading. Uangnya lumayan buat tambahan.        

Punya tidak, hobby yang menguras tabungan?

Piknik! Huahaha ;-) Ini hobby yang bener-bener menguras uang. Setidaknya, dalam 1 tahun, saya merencanakan piknik ke satu negara dan satu daerah. Dan karena saya tipe solo traveling, biasanya menghabiskan dana yang cukup besar, karena apa-apa kan ditanggung sendiri.  

Kalau orang lain yang penghasilannya tiap bulan besar, mungkin tidak masalah piknik ke Luar Negeri tiap tahun. Tapi gaji saya kan standar. Jadi, sebenarnya ini adalah kegiatan yang imposible dan tidak masuk logika. Piknik itu kayak candu, susah disembuhkan! 

Karena saya tidak punya tabungan, biasanya tiap mau liburan, saya gadaikan emas. Setelah liburan panjang, kerja rasanya hanya untuk menebus emas yang tergadai. Huahaha ;-)

Dalam skala 1-10 dalam hal boros, kamu masuk yang mana?

10, sangat boros! Saya itu tipe yang sama sekali tidak bisa pegang uang. Berapapun uang yang bisa saya hasilkan hari itu, akan habis tidak tersisa pada hari itu juga. Buat saya, uang itu kayak angin, tidak bisa di genggam ;|

Selain untuk piknik, memang uangnya habis untuk apa saja?

Pengeluaran terbesar untuk Idul Fitri. Mulai dari tiket PP hingga oleh-oleh. Tapi, oleh-oleh-lah yang menghabiskan biaya paling banyak. Saya paling suka membelikan hadiah buat keluarga, mulai dari orang tua, keluarga inti, keponakan, sepupu, simbah, hingga pakdhe-budhe, paman-bibi, semua keluarga besar, saya belikan baju-sepatu-sarung baru buat lebaran. Kadang, hanya untuk biaya oleh-oleh, saya bisa menghabiskan hingga Rp 5 juta. Itu belum termasuk bagi-bagi angpao buat para keponakan ;-) Jadi, selain biaya piknik, biaya mudik paling menghabiskan uang.

Selain itu uang habis untuk kebutuhan standar anak muda; buat beli handphone, laptop, motor, nonton ke bioskop, mencoba restoran baru. Positifnya, saya tidak suka nge-mall, jadi tidak kecanduan belanja. Negatifnya, sekalinya saya suka sesuatu, saya harus beli tidak peduli berapapun harganya. 

Biaya untuk baju kerja juga menghabiskan banyak uang, dari seragam PSH, PSR, dan PSL saya punya hingga beberapa warna, lalu sepatu mulai dari model standar hingga high heels, setidaknya dari setiap model saya punya sepasang yang berwarna hitam, itu semua untuk keperluan kerja. 

Saya jarang ke salon, tapi beberapa produk kosmetik yang saya pakai harganya lumayan mahal, biasanya saya membeli jika ada honor tambahan. 

Saya juga menyisihkan sejumlah uang untuk berkurban. Saya usahakan tiap tahun, saya mampu berkurban. Agar tidak berat, uangnya saya bagi dalam 12 bulan. Jadi, tiap bulan saya menabung khusus untuk dana qurban, jika dalam satu bulan ternyata tidak bisa menabung, bulan depan harus bayar 2x lebih besar.

Kadang, dari kampung, saya sering diminta untuk menyumbang pembangunan pondok pesantren, misal mau menambah asrama baru atau membangun sumur bor baru. Walaupun honor saya tidak banyak, biasanya, untuk kegiatan kampung tetap saya prioritaskan diatas kebutuhan pribadi.

Kenapa tertarik membuat arisan emas?

Investasi dan menabung, jujur saja, menurut saya bukanlah kegiatan yang menarik. Berhemat tidaklah menyenangkan. Tapi menjadi harus, jika kita mengingat bahwa di masa depan ada banyak hal yang perlu kita siapkan.

Karena tidak menarik, makanya saya membuat arisan emas antam, agar orang-orang dalam kelompok arisan saling mengingatkan arti pentingnya berinvestasi. Kita sudah tiap hari kerja, tidak mau kan uangnya habis untuk hal sia-sia. Toh, kita tidak selamanya muda dan sehat, tidak selamanya juga bisa bekerja.

Rencananya kalau menang arisan, emasnya untuk apa?

Buat tabungan, buat jaga-jaga kalau butuh sesuatu yang darurat.

Bagaimana sih pengetahuanmu tentang dunia investasi?

Lumayan. Tidak pandai, tapi mau belajar. Dalam ukuran 1-10, saya masuk urutan 6, lumayan! ;-)

Saya belajar dan telah praktik tentang investasi emas, reksadana, saham, dana pensiun, tabungan dollar, ORI, SUKUK RITEL dan investasi tanah. Masih banyak perlu belajar, makanya arisan emas ini sengaja dibentuk tujuannya untuk share pengalaman investasi.  

Obsesi ke depan apa?

Dulu, saya punya obsesi untuk piknik ke banyak negri mumpung saya muda. Sungguh, saya ingin sekali mengunjungi tempat-tempat yang waktu saya kecil hanya bisa saya lihat di buku dan kalender. Lalu, obsesi saya berganti, saya ingin membeli tanah sebelum menikah. Sekarang, obsesi saya, ingin naik haji di usia muda. Pokoknya, mumpung badan masih muda, masih sehat, masih kuat, saya ingin sekali naik haji. Ya, didoakan saja diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Amiin.

*Pipit Damayanti. August 2014. Pemenang ke-5 Arisan Emas Antam. Pemilik resmi blog pacarkecilku.blogspot.com. Selamat Berkenalan ;-)

Monday, July 14, 2014

Confession About My Money; Noviana Intan Dewi


Noviana Intan Dewi. Foto diambil di Songkla Restoran Sleman DIY
Ini dia “July Winner” kita, namanya Intan. Intan adalah salah satu murid saya jaman mahasiswa. Kala itu, saya masih belum punya pekerjaan tetap, mengajar di beberapa tempat untuk anak-anak SMA buat mengikuti ujian tertulis masuk Universitas. Nah, Intan ini salah satu murid saya.

Dulu murid, sekarang teman! Intan ini termasuk salah satu teman piknik saya ;-)

Intan lahir di Sleman, pada tanggal 4 November. Cewek berzodiak Scorpio ini, sangat menyukai dunia fashion dibandingkan teman-teman seumurannya. Lulus dari SMA N 1 Sleman pada tahun 2009, kemudian dilanjutkan ke Pendidikan Teknik Busana UNY.

Berikut hasil obrolan singkat saya dengan Intan.

Apa kegiatan sekarang?

Menyusun skripsi ;-)

Masih ingat tidak, berapa penghasilan pertamamu dan waktu itu uangnya untuk apa?

Aku pernah part time sekali di catering tetanggaku, sebagai cook helper, malamnya jadi pramusaji, kerja sehari dibayar Rp 50 ribu.

Waktu liburan semester, dari semester 2 ke semester 3, pernah part time di Nikkou Ramen 2 bulan. Pernah jualan pulsa waktu awal kuliah, tapi bangkrut gara-gara teman-teman pada hutang dan tidak bayar-bayar.

Honor part time di Catering, uangnya langsung untuk beli sepatu. Yang part time di Nikkou Ramen, uangnya untuk traktir teman-teman dan beli baju. Kalau yang berjualan pulsa, untungnya untuk jajan saat istirahat kuliah.

Tiap bulan, biaya pengeluaran paling besar untuk apa?

Makan dan transport, karena kalau tidak ada yang jemput, aku naik bis umum atau Transjogja lanjut ojek dari terminal Jombor ke rumah.

Dari uang tiap bulan, bisa nabung tidak?

Kadang bisa, kadang tidak. Tidak tentu. Apalagi kalau dulu masih banyak kuliah praktik, uang yang harusnya ditabung jadi korban praktik kuliah.

Kalau bisa nabung, biasanya nabung di awal atau di akhir bulan?

Di awal bulan. Uang yang akan di tabung di sisihkan dulu, kalau di tengah bulan ada keperluan mendadak dan kondisi keuangan tidak memungkinkan, uangnya dipakai. Tapi kalau lancar sampai akhir bulan, di masukkan ke dalam celengan.

Biasanya aku menyisihkan Rp 100 ribu di awal bulan, untuk ditabung atau option kedua untuk dana darurat militer.

Kenapa tertarik ikut arisan emas?

Karena sudah tidak ada kuliah praktik jadi uangnya bisa ditabung. Nah, daripada terpakai jajan lebih baik ikut arisan, jadi ada sesuatu yang mengikat dan mengharuskan buat save money.

Rencananya kalau menang arisan, emasnya untuk apa?

Awalnya tidak tahu untuk apa, pilihannya akan kuberikan pada ibuku atau uti (nenek)-ku, setelah kupikir-pikir, emasnya akan kupakai untuk cadangan modal usaha.

Punya tidak, hobby yang menguras tabungan?

Ada! Hobby 2J = Jajan+Jalan-jalan dan hobby beli kain ;-)

Kain untuk apa?

Kain untuk dibuat baju atau sekedar koleksi. Tapi pada akhirnya jadi koleksi karena tidak kunjung jadi membuat bajunya ;|

Bagaimana pengetahuanmu tentang investasi?

Hanya tahu sedikit waktu pelajaran di SMA.

Memang kamu ingin membuat usaha apa?

Ingin bikin online shop yang jual barang-barang buatanku sendiri. Huehehe ;-)

Obsesi Intan ke depan apa?

Ingin menciptakan industry kreatif, biar bisa bikin lapangan kerja untuk masyarakat sekitar. Ya, didoakan saja diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Amiin.

*Noviana Intan Dewi. July 2014. Pemenang ke-4 Arisan Emas Antam. Pemilik resmi akun Twitter @Intand_Dewi. Selamat Berkenalan ;-)

Monday, June 23, 2014

Pensiun Yang Bahagia



Foto diambil disini

Menjadi tua itu pasti. Tapi pensiun bahagia dan menjalani hari tua dengan kebebasan financial adalah pilihan.

Pernahkah Anda memiliki nasib yang sama dengan saya, disuruh orang tua untuk melamar pekerjaan di kantor-kantor yang memberikan uang pensiun, meski pekerjaan tersebut hanya menggaji anda sedikit. Jika Anda berkata “iya”, itu artinya kita senasib! Hihihi ;-)

Saya, dan beribu-ribu orang diluar sana, kebanyakan memang bekerja di sebuah tempat yang, konon, menjadi rebutan banyak orang karena disediakan fasilitas “Dana Pensiun”. Tentu saja, waktu itu saya masih sangat muda, bingung, tak punya pengalaman, dan buta pengetahuan financial. Tapi mari teman, kita akan belajar bersama agar kita semua “melek financial”.

Setiap ada teman yang bercerita tentang melamar kerja, saya selalu menyarankan satu hal, tanyakan tentang Dana Pensiun dan Dana Kesehatan. Tanyakan juga hak dan kewajiban terkait dua hal tersebut. Misalkan saja; setelah berapa tahun bisa mengajukan pensiun dini? Atau setelah berapa tahun, Dana Pensiun bisa dicairkan? 

Terdengar lucu ya? Tapi percayalah, di luar gaji bulanan, Dana Pensiun dan Dana Kesehatan adalah dua hal penting yang harus ditanyakan, karena kedua hal tersebut merupakan hak kita. Kantor yang baik tentunya bersikap kooperatif dan terbuka, karena Pensiun dan Kesehatan, pada dasarnya adalah hak kita.

Menurut Hukum Perburuhan kita, Dana Kesehatan itu sangat penting, terutama jika pekerjaan kita memiliki resiko kerja yang tinggi. Mengenai Dana Kesehatan, akan kita bahas pada tulisan lebih lanjut. Tulisan kali ini, hanya fokus pada Dana Pensiun.

Lantas bagaimana jika tempat kerja kita tidak menyediakan Dana Pensiun? Saran saya, sebaiknya kantor Anda menggaji dalam jumlah uang yang cukup besar tiap bulan. Jika tidak, pikirkan untuk mencari pekerjaan yang lain ;-)

Ada beberapa sumber penghasilan yang bisa membantu kita menyusun dana hari tua.

Pertama, Jaminan Hari Tua (JHT). Program Jaminan Hari Tua dikelola oleh Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Ini merupakan tabungan bagi para pekerja yang diatur oleh Pemerintah. Penghasilan kotor anda akan disisihkan sejumlah 5,7% yang iurannya dibayarkan oleh pemberi kerja (3,7%) dan anda sendiri (2%). Saldo JHT akan dikelola oleh Jamsostek dan diberikan bagi hasil setiap tahunnya setelah Anda pensiun.

Secara rata-rata, bagi hasil JHT adalah 2% di atas tingkat suku bunga deposito bank umum. Pada umumnya, dana pensiun Anda akan diinvestasikan pada reksadana Pasar Uang atau Reksadana Pendapatan Tetap. Bahkan sekitar tahun 2012, Jamsostek mengklaim dirinya mampu memberikan return 10% per tahun. Bagaimana, lumayan kan?

Eiiits, jangan senang dulu lho. Ada hal penting yang harus Anda pelajari, yaitu uang Anda akan tergerus inflasi 10% tiap tahun. Bagaimana, Anda masih yakin, bahwa Anda akan pensiun bahagia mengandalkan Dana Pensiun dari kantor, jika nilai return dari Dana Pensiun Anda tidak mampu mengalahkan inflasi?

Kedua, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Ada program investasi lain untuk masa pensiun Anda yaitu DPLK. Awalnya program ini hanya digunakan untuk karyawan di perusahaan. Dengan berkembangnya waktu, DPLK saat ini bersikap “terbuka” bagi perseorangan, sehingga kita secara perseorangan bisa turut serta mengakses produk DPLK.

Produk yang dikeluarkan oleh DPLK ini aman, karena terikat peraturan tentang Dana Pensiun yaitu PMK no.50/PMK.10/2012 per 4 Oktober 2012, bahwa Saldo Dana Pensiun kurang dari Rp 625 juta dapat diambil secara lump-sum, sedangkan saldo Dana Pensiun lebih dari Rp 625 juta, max 20% dapat diambil lump-sum & min. 80% wajib dibelikan anuitas.

Kelebihan DPLK adalah kita bisa memilih kemana dana pensiun kita diinvestasikan, bisa ke Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Campuran, dan Reksadana Saham. Pembukaan awalnya pun cukup murah, beberapa bank hanya mensyaratkan Rp 100 ribu pada pembukaan awal, dan dilanjutkan Rp 100 ribu tiap bulan. Anda bisa memilih menggunakan metode Autodebet, dengan metode ini, tiap bulan dana akan dipotong secara langsung dari rekening Anda, bahkan jika rekening Anda sedang kosong, metode ini tidak akan memberikan Anda penalti. Mudah kan?

Lalu bagaimana perhitungannya?

Misal saja ya, Anda menyisihkan seribu rupiah per hari dari uang jajan. Dengan asumsi bahwa 1 tahun memiliki 365 hari, maka dalam setahun Anda akan punya uang Rp 365 ribu untuk diinvestasikan. Jika uang ini Anda investasikan pada reksadana yang memiliki return 20% selama 30 tahun, maka berpotensi terbentuk dana sebesar Rp 431.386.772,68. Bagaimana, menarik kan?

Itu hanya seribu sehari lho, bayangkan jika Anda mampu menyisihkan Rp 10 ribu per hari, maka tiap bulan Anda akan punya Rp 300 ribu untuk berinvestasi. Jika Anda investasikan pada reksadana dengan nilai return 20% selama 20 tahun, itu artinya dengan modal Rp 72 juta, Anda akan mendapatkan return Rp 948.443.811,-. Isn’t it fantastic? ;-)  

Kekurangan DPLK, kita hanya tahu bahwa dana pensiun kita diinvestasikan pada salah satu jenis Reksadana. Misal, saya memilih Reksadana Saham. Maka tidak ada penjelasan lebih lanjut pada saham perusahaan manakah, dana pensiun kita diinvestasikan. Kita harus “manut” pada Bank/ Sekuritas pemilik DPLK, kemana uang kita diinvestasikan.

Berbeda jika kita membeli reksadana saham secara murni lewat sekuritas atau bank, di dalam prospektus, kita bisa membaca dengan jelas, ke perusahaan apa saja uang kita diinvestasikan oleh Manajer Investasi.     

Ketiga, Penghasilan dari Aset Investasi. Jika Anda sudah punya JHT dan DPLK maka Anda tinggal selangkah lagi memiliki pensiun yang bahagia dan nyaman. Apa sih problema kita saat ini? Jawabannya adalah gaya hidup!

Bisa jadi, dengan gaya hidup kita saat ini, Dana Pensiun yang sudah kita siapkan tidak cukup untuk menunjang kesenangan kita. Oleh karena itu, kita wajib juga membuat dana pensiun tambahan dengan cara mengakumulasi asset investasi. Aset ini nantinya akan dijadikan asset produktif, yang nantinya dapat memberikan penghasilan pasif bagi Anda di hari tua.

Misal ya, di awal usia 30-an, Anda mulai rajin menyisihkan sekian rupiah dari gaji ke reksadana saham. Lalu, di usia 40-an, Anda mulai memiliki kemampuan untuk membeli asset produktif seperti rumah kost ataupun ditanamkan ke bisnis. Nah, dari asset produktif tersebut, Anda bisa mengharapkan adanya tambahan arus kas dari hasil sewa atau pun bagi hasil bisnis untuk menunjang gaya hidup Anda.

Ingat, apapun pilihan yang Anda buat, menjadi tua itu pasti. Tapi pensiun bahagia dan menjalani hari tua dengan kebebasan financial adalah pilihan.

Happy Investing!
 
© Copyright 2013 pacarkecilku