 |
| Foto ini diambil di sebuah sungai di Siem Riep, Cambodia. |
Sudahkah kalian membaca novel “Si
Parasit Lajang” karya Ayu Utami? Novel ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer
Gramedia pada Februari 2013. Tapi jauh sebelumnya, novel Si Parasit Lajang
telah diterbitkan pertama kali tahun 2003 oleh Penerbit Gagas Media.
Saya belum pernah membaca Si
Parasit Lajang versi Gagas Media, jadi pasti tidak bisa membandingkan kedua
buku tersebut. Yang pasti, dalam kata pengantarnya Si Parasit Lajang versi
Gramedia, si penulis menjelaskan bahwa ada beberapa penambahan, sedikit
pengurangan, serta penyesuaian artikel seturut jaman dengan susunan baru.
Si Parasit Lajang versi terbaru
adalah novel yang berisi kumpulan tulisan lama Ayu Utami di majalah Jakarta-Jakarta
dan djakarta! dari tahun 1999 hingga 2003, dilengkapi dengan beberapa tulisan
yang baru ditulis sekitar September 2012 hingga Januari 2013.
Saya tidak berniat me-review buku
ini, tidak, saya tidak memiliki kemampuan untuk me-review buku. Saya hanya
tertarik pada ide “Parasit” dan “Lajang”. Meski si penulis, menggunakan kedua
kata tersebut menjadi satu frase, tapi saya lebih suka memenggalnya.
Pertama, Parasit, kata ini
mengacu pada Simbiosis Parasitisme. Dalam
ilmu botani, parasit adalah tanaman yang dianggap merugikan, sudah numpang pada inangnya, tak mau ngapa-ngapain, terus minta makan gratis!
Kedua, Lajang, kata ini mengacu
pada seseorang yang tidak menikah. Beberapa orang memilih menggunakan kata “belum
menikah” untuk mendefinisikan kata Lajang, tapi si penulis (dengan gagahnya) memilih
kata “tidak menikah”.
Barangkali, inilah yang membuat
si penulis begitu kontroversial saat itu. Iya, saya bilang: “saat itu”. Tulisan
pendek Si Parasit Lajang diterbitkan majalah djakarta! pada April 2001. Pada
masa itu, tentu “ide” si penulis dianggap tidak sesuai dengan norma sosial,
karena pada hakekatnya perempuan harus menikah (kecuali, tentu saja, pilihan
hidup para Biarawan dan Biarawati).
Buat beberapa orang, buku ini
menjadi sangat menarik karena si penulis memberi penjelasan tentang 10+1 Alasan
(si penulis) untuk Tidak Kawin. Saya juga tertarik. Tentu bukan tertarik untuk
ikut-ikutan tidak menikah, tapi tertarik bagaimana si penulis menjelaskan,
dengan caranya sendiri, bahwa ada yang salah pada konstruksi sosial kita, yang
memandang bahwa perempuan yang tidak menikah itu sebagai sesuatu yang “tidak
sempurna” atau “cacat”.
Tentu saja, ada laki-laki Lajang,
tapi sanksi sosial laki-laki yang melajang, sangat berbeda dengan perempuan
yang melajang.
Buat saya pribadi, buku ini jauh
lebih menarik karena si penulis menyebutkan dirinya sebagai benalu atau single parasite, karena menurut penulis,
cuma “benalu” yang numpang di rumah orangtua, tak bayar listrik, pagi bermain,
siang bekerja, malam menulis, tanpa mikir memberi makan anjing atau mencuci
mobil (Si Parasit Lajang-hal. 27). Dengan
alasan beberapa hal tersebut, si penulis mengklaim bahwa dirinya sendiri
sebagai si Parasit Lajang.
Pertanyaannya adalah ada berapa
orang yang memiliki gaya hidup semacam si penulis, yaitu si Parasit Lajang? Jawabannya:
ini adalah gaya hidup yang saya, kamu, mereka, kalian, atau bahkan gaya hidup dari
kita semua, celakanya, kebanyakan dari kita!
Ada berapa banyak perempuan yang
karirnya maju, punya penghasilan besar, tapi hidupnya tetap jadi “parasit” bagi
orangtuanya?
Atau fakta lain, yang lebih
ngeri, ada berapa banyak perempuan yang tidak punya pekerjaan, tidak punya
penghasilan, tapi bergaya hidup mewah sehingga menjadi parasit bagi
orangtuanya?
Single Parasite pada awalnya adalah sebutan bagi perempuan Jepang
yang karirnya maju, tidak menikah, numpang di rumah orangtua sehingga tidak
perlu menyewa apartemen, tidak juga perlu mengurus rumah karena sudah ada si Ibu,
tidak perlu mencukupi kebutuhan sebulan karena sudah ada si Ayah.
Si Parasit
Barangkali, konsep keluarga Timur
dan Barat memang berbeda. Konsep keluarga Timur (meskipun untuk ukuran Jepang
yang maju) kedekatan keluarga adalah segalanya. Saking dekatnya, bahkan orangtua sering tidak tega jika si anak
pindah rumah atau pindah ke apartemen, meskipun sebenarnya si anak mampu hidup
mandiri sendiri. Kedekatan ini, menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan yang
akhirnya menghasilkan ke-tidakmandiri-an si anak. Hasilnya adalah si Parasit
Lajang.
Konsep keluarga Barat, barangkali
jauh lebih “tega”. Buat keluarga Barat, kalau si anak sudah dewasa, ya artinya
harus “tega” disuruh keluar dari rumah. Harus belajar mencari kerja, meskipun
hanya sekedar tukang cuci piring di restoran. Pembelajarannya, bukan pada
belajar cuci piring, tapi bahwa seseorang harus belajar dewasa. Dewasa artinya
bertanggungjawab, termasuk bertanggungjawab memenuhi kebutuhan financial diri
sendiri.
Itu sebabnya, dalam keluarga
Barat, jika si anak sudah dewasa dan masih menumpang hidup di rumah orangtua,
itu sangat memalukan. Prinsip mereka, boleh jadi Lajang tapi tidak boleh jadi Parasit!
Bagaimana dengan konsep keluarga
di Negri kita?
Seperti umumnya di negri Timur,
di Negri kita, ketergantungan anak pada orangtua sangat tinggi. Memang ada masa
dimana anak “keluar” dari rumah. Itu adalah masa sekolah dan kuliah. Beberapa
anak, bahkan meninggalkan rumah lebih awal, misalnya jika dimasukkan ke
pesantren, semakin dini usia dimasukkan, ya semakin dini “belajar” konsep
mandiri.
Ada juga yang semenjak dini
disekolahkan di kota lain, di pulau lain bahkan hingga di negri lain. Semakin
jauh tempat bersekolah, artinya semakin jarang pula intensitas bertemu
orangtuanya. Diharapkan, semakin jarang bertemu orangtua, maka tingkat
ketergantungan akan semakin menurun, sehingga anak-anak belajar konsep mandiri.
Inget ya, hanya “belajar” mandiri lho, bukan mandiri beneran. Soalnya jaman sekarang, fasilitas di pesantren atau di
kost, terkadang jauh lebih mewah dari rumah sendiri, lengkap dengan para rewang yang siap membantu segala
pekerjaan rumah tangga.
Apakah jika sudah sekolah jauh
dari orangtua lantas tidak menjadi parasit?
Belum tentu. Saya banyak bertemu
dengan teman-teman yang sekolah jauh, menghabiskan banyak biaya, lantas pulang
ke rumah orangtuanya, dan menjadi si Parasit Lajang dengan biaya hidup yang
jauh lebih besar lagi di rumah!
Konsep “belajar” mandiri di
pesantren atau kost, hanya akan berubah nama menjadi “mandiri” sesungguhnya,
saat si anak belajar mencapai kebebasan financial-nya sendiri. Proses untuk
mencapai kebebasan financial inilah, saya menyebut sebagai proses meninggalkan
sisi parasit di diri kita masing-masing.
Untuk mencapai “kebebasan financial”, ada yang bekerja sambilan semenjak duduk dibangku kuliah, bahkan beberapa kenalan saya, sudah membuka usaha semenjak SMA. Beberapa teman, memang kemudian kembali ke rumah orangtuanya, tapi bukan sebagai parasit. Mereka kembali malah untuk membantu financial orangtuanya. Pada beberapa kasus, mereka kembali pulang ke rumah, karena memang tidak ada pilihan lain, misal: mereka anak tunggal, salah satu orangtua sudah meninggal sehingga harus ada yang merawat orangtua yang ditinggalkan, dan tidak ada yang mengurus rumah. Tentu, buat orang-orang seperti ini, saya tidak menyebut mereka dengan si Parasit Lajang.
Laki-Laki Parasit Lajang
Ada berapa banyak laki-laki yang
karirnya maju, punya penghasilan besar, tapi hidupnya tetap jadi “parasit” bagi
orangtuanya?
Atau fakta lain, yang lebih
ngeri, ada berapa banyak laki-laki yang tidak punya pekerjaan, tidak punya
penghasilan, tapi bergaya hidup mewah sehingga menjadi parasit bagi
orangtuanya?
Iya, nampaknya saya ngelantur, karena konsep awal, si
Parasit Lajang, hanya digunakan pada perempuan berpenghasilan tapi jadi parasit
orangtuanya. Tapi bagaimana, kalau saya pinjam istilah itu untuk menyebut
laki-laki yang bertipe si Parasit Lajang?
Saya ulangi lagi ya definisinya?
Single Parasite pada awalnya adalah sebutan bagi perempuan Jepang yang karirnya maju, tidak menikah, numpang di rumah orangtua sehingga tidak perlu menyewa apartemen, tidak juga perlu mengurus rumah karena sudah ada si Ibu, tidak perlu mencukupi kebutuhan sebulan karena sudah ada si Ayah.
Bagaimana kalau dirubah menjadi:
Single Parasite adalah sebutan bagi laki-laki yang karirnya maju, belum menikah, numpang di rumah orangtua sehingga tidak perlu menyewa apartemen, tidak juga perlu mengurus rumah karena sudah ada si Ibu, tidak perlu mencukupi kebutuhan sebulan karena sudah ada si Ayah.
Apakah di Jepang, banyak
laki-laki yang jadi si Single Parasit?
Jawabannya: tidak banyak, di negri itu lebih banyak perempuan yang jadi single parasite.
Apakah di Indonesia, banyak
laki-laki yang jadi si Single Parasit?
Jawabannya: banyak!
Single Parasite - Multiple Parasite
Pendapat saya pribadi, selama si
Parasit tetap Lajang, entah itu perempuan, entah itu laki-laki, selama
orangtuanya mau ngopeni, ya tidak
masalah. Persoalan yang muncul, hanyalah jika si Parasit tersebut tidak lagi Lajang.
Kalau si Parasit Lajang adalah
perempuan, terus nikah, dapat suami yang punya penghasilan besar, kan tidak
jadi parasit lagi? Minimal tidak jadi parasit bagi orangtuanya lagi kan? ;-)
Kalau si Parasit Lajang adalah
laki-laki, terus nikah, punya anak, dan tetap jadi parasit bagi orangtuanya,
nah itu namanya Double Parasite!
Nah, bayangkan kalau si Parasit
Lajang adalah si laki-laki dan si perempuan, terus mereka menikah dan punya
anak, dan tetap jadi parasit? Kira-kira namanya apa ya? Jawabannya: Multiple Parasite!
Parasit Kelas Menengah-Kebawah
Saya membayangkan bahwa si
Parasit Lajang dalam buku Ayu Utami adalah para lajang yang masuk di dalam
kelas Menengah-Keatas, sehingga kalaupun mereka ber-transformasi menjadi Multiple Parasite, ya tetap saja mereka
golongan Multiple Parasite
Menengah-Keatas, yang punya orangtua tajir,
yang hartanya tak bakal habis hingga tujuh turunan!
Lantas bagaimana dengan si
Parasit Lajang yang masuk ke dalam kelas Menengah-Kebawah?
Bayangkan cerita ini:
Sepasang
suami istri, si Ayah adalah buruh bangunan, si Ibu bekerja sebagai buruh cucian
dari rumah ke rumah. Punya anak lima. Biaya sekolah tinggi. Anak laki-laki
lulus SMA, dan anak perempuan “hanya” lulus SMP.
Lulus sekolah si Laki-laki Sulung
ikut membantu jadi buruh bangunan. Belum mampu membiayai hidupnya, kemudian si
Sulung menikah, punya anak. Biaya susu yang mahal, membuat si Sulung bersama
istri dan anaknya memilih tinggal bersama si Ayah-Ibu, yang tak perlu bayar
uang kontrakan atau uang kost.
Kemudian si Anak Laki-laki Kedua
menikah, pengangguran, menikah dan punya anak. Sama seperti si Sulung, si Anak
Kedua, juga tinggal bersama si Ayah-Ibu, karena dia tidak bisa menghidupi sendiri
istri dan anaknya.
Lalu, si Anak Laki-laki Ketiga,
baru masuk SMA, dan menghamili pacarnya, terpaksa menikah di usia dini, dan
lagi-lagi tinggal bersama si Ayah-Ibu, lengkap mengajak istri-anaknya.
Bayangkan bagaimana si Ayah-Ibu
yang awalnya hanya perlu menanggung 5 anak plus 2 dirinya, jadi harus memberi
makan 13 perut di dalam rumahnya?
Anak-anak ini, awalnya adalah
Parasite Lajang Menengah-Kebawah, yang belum bisa membiayai hidupnya sendiri, kemudian
ber-transformasi menjadi Multiple
Parasite Menengah-Kebawah. Pernikahan dini, pernikahan di usia yang belum
siap untuk berdikari, atau bahkan memang tidak dididik mandiri oleh orangtua, akhirnya
membuat mereka menjadi parasit yang jauh lebih besar, jauh lebih rakus.
Beban financial terbesar kembali
jatuh pada orangtua. Akhirnya, yang ada hanyalah Sharing of Poverty. Berbagi Kemiskinan.
Makanan yang belum tentu kenyang
untuk ber-7, harus dibagi menjadi 13 piring. Beban financial ini akan terus
bertambah, seiring laju pertumbuhan dan pertambahan jumlah perut yang kudu diopeni di dalam rumah tersebut. Lantas
bagaimana?
Solusinya ya cuma satu, anak-anak
yang telah menikah berhenti jadi parasit! Tentu, meski sama-sama parasit, beban
biaya hidup antara lajang dan menikah, pasti akan berbeda buat orangtua.
Nah, kalau yang kelas ekonominya
Menengah-Kebawah dituntut agar tidak jadi parasit, mosok para Lajang yang kelas Menengah-Keatas “diijinkan” jadi
parasit? Tidak adil itu namanya. Diskriminatif!
Kalau memang mau berubah, kita
harus berubah semua, bersama-sama! Jangan salahkan si Menengah-Kebawah, karena
mereka hanya meniru si Menengah-Keatas. Jangan tuntut kami, si Menengah-Kebawah
untuk berubah jadi mandiri, kalau si Menengah-Keatas hanya mengajarkan sifat hedonisme
para parasit. Karena apapun kelasnya, kita tetap sama, kita adalah parasit yang
menumpang pada inangnya, yaitu orangtua kita.
Si Lajang Parasit
Barangkali ini sindiran buat kita
semua. Kalau “seorang” Ayu Utami, yang penulis terkenal saja mengaku parasit,
bagaimana dengan kita?
Apakah kita juga termasuk dalam kriteria
Lajang yang numpang di rumah orangtua, tak bayar listrik, pagi bermain, siang
bekerja, malam menulis, tanpa mikir memberi makan anjing atau mencuci mobil, tanpa
mikir uang bensin, uang belanja makanan, iuran warga, dan mengganti genteng rumah
yang bocor?
Kesimpulannya, boleh sih jadi
Lajang, tapi jadi Parasit? Nanti dulu!
Tabik!
@pacarkecilku