Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Monday, July 7, 2014

Melek Finansial

Foto diambil di sini

Saat teman bercerita bahwa tempat kerjanya tidak menyediakan Dana Pensiun, saya bilang “jangan risau!”. Kita bisa membuat Dana Pensiun sendiri. Bukan hanya itu, dengan perencanaan keuangan yang tepat, bahkan Dana Pensiun pribadi bisa lebih tinggi imbal hasilnya daripada orang-orang yang sudah mendapatkan Dana Pensiun dari kantornya.

Jika Anda termasuk yang sudah mendapat Dana Pensiun dari kantor. Pertanyaannya, berapa prosen sih, alokasi Dana Pensiun yang diambil dari gaji Anda, jangan-jangan tidak sampai 10% dari penghasilan Anda. Ingat, Jamsostek hanya mengambil 2% persen dari gaji Anda untuk disimpan sebagai Dana Pensiun!

Lantas, bandingkan dengan besar pengeluaran Anda tiap bulan? Masih yakin, tidak ingin membuat Dana Pensiun pribadi? Anda yakin pada saat Anda pensiun, uang pensiun Anda akan mampu mencukupi gaya hidup Anda?

Bagaimana jika Anda wiraswasta dan memiliki beberapa karyawan? Karena Anda wiraswasta (atau pengusaha), saya yakin pemikiran Anda sudah maju ke depan di bandingkan saya dan teman-teman, tentunya Anda lebih pintar dari saya soal Investasi, tapi bagaimana dengan karyawan Anda? Saya sarankan, agar karyawan Anda juga “dididik” akan pentingnya Dana Pensiun, sehingga setidaknya, saat perusahaan Anda goyah, karyawan Anda akan tetap menjalani masa tua dengan tenang.

Untuk kalian yang masih kuliah? Tanya deh ke diri Anda, uang Rp 100 ribu tiap bulan, kalian habiskan untuk apa? Untuk ukuran kota Jogja, uang Rp 100 ribu saya habiskan untuk ke bioskop dan jajan. Habis!

Bagaimana jika mulai sekarang kita semua belajar “melek financial”, uang Rp 100 ribu yang habis dalam satu hari dihabiskan saja untuk investasi, satu bulan cukup seratus ribu rupiah. Lalu lihat hasilnya 3-5 tahun lagi, saat semua teman-teman sibuk melamar pekerjaan, uang yang kalian investasikan bisa dipakai untuk modal buka usaha. Keren kan!

Jadi, mau menikmati pensiun yang nyaman atau tua dengan terjerat kesulitan finansial? Itu semua tergantung pilihan Anda ;-) 

Happy Investing!

Monday, June 23, 2014

Pensiun Yang Bahagia



Foto diambil disini

Menjadi tua itu pasti. Tapi pensiun bahagia dan menjalani hari tua dengan kebebasan financial adalah pilihan.

Pernahkah Anda memiliki nasib yang sama dengan saya, disuruh orang tua untuk melamar pekerjaan di kantor-kantor yang memberikan uang pensiun, meski pekerjaan tersebut hanya menggaji anda sedikit. Jika Anda berkata “iya”, itu artinya kita senasib! Hihihi ;-)

Saya, dan beribu-ribu orang diluar sana, kebanyakan memang bekerja di sebuah tempat yang, konon, menjadi rebutan banyak orang karena disediakan fasilitas “Dana Pensiun”. Tentu saja, waktu itu saya masih sangat muda, bingung, tak punya pengalaman, dan buta pengetahuan financial. Tapi mari teman, kita akan belajar bersama agar kita semua “melek financial”.

Setiap ada teman yang bercerita tentang melamar kerja, saya selalu menyarankan satu hal, tanyakan tentang Dana Pensiun dan Dana Kesehatan. Tanyakan juga hak dan kewajiban terkait dua hal tersebut. Misalkan saja; setelah berapa tahun bisa mengajukan pensiun dini? Atau setelah berapa tahun, Dana Pensiun bisa dicairkan? 

Terdengar lucu ya? Tapi percayalah, di luar gaji bulanan, Dana Pensiun dan Dana Kesehatan adalah dua hal penting yang harus ditanyakan, karena kedua hal tersebut merupakan hak kita. Kantor yang baik tentunya bersikap kooperatif dan terbuka, karena Pensiun dan Kesehatan, pada dasarnya adalah hak kita.

Menurut Hukum Perburuhan kita, Dana Kesehatan itu sangat penting, terutama jika pekerjaan kita memiliki resiko kerja yang tinggi. Mengenai Dana Kesehatan, akan kita bahas pada tulisan lebih lanjut. Tulisan kali ini, hanya fokus pada Dana Pensiun.

Lantas bagaimana jika tempat kerja kita tidak menyediakan Dana Pensiun? Saran saya, sebaiknya kantor Anda menggaji dalam jumlah uang yang cukup besar tiap bulan. Jika tidak, pikirkan untuk mencari pekerjaan yang lain ;-)

Ada beberapa sumber penghasilan yang bisa membantu kita menyusun dana hari tua.

Pertama, Jaminan Hari Tua (JHT). Program Jaminan Hari Tua dikelola oleh Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Ini merupakan tabungan bagi para pekerja yang diatur oleh Pemerintah. Penghasilan kotor anda akan disisihkan sejumlah 5,7% yang iurannya dibayarkan oleh pemberi kerja (3,7%) dan anda sendiri (2%). Saldo JHT akan dikelola oleh Jamsostek dan diberikan bagi hasil setiap tahunnya setelah Anda pensiun.

Secara rata-rata, bagi hasil JHT adalah 2% di atas tingkat suku bunga deposito bank umum. Pada umumnya, dana pensiun Anda akan diinvestasikan pada reksadana Pasar Uang atau Reksadana Pendapatan Tetap. Bahkan sekitar tahun 2012, Jamsostek mengklaim dirinya mampu memberikan return 10% per tahun. Bagaimana, lumayan kan?

Eiiits, jangan senang dulu lho. Ada hal penting yang harus Anda pelajari, yaitu uang Anda akan tergerus inflasi 10% tiap tahun. Bagaimana, Anda masih yakin, bahwa Anda akan pensiun bahagia mengandalkan Dana Pensiun dari kantor, jika nilai return dari Dana Pensiun Anda tidak mampu mengalahkan inflasi?

Kedua, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Ada program investasi lain untuk masa pensiun Anda yaitu DPLK. Awalnya program ini hanya digunakan untuk karyawan di perusahaan. Dengan berkembangnya waktu, DPLK saat ini bersikap “terbuka” bagi perseorangan, sehingga kita secara perseorangan bisa turut serta mengakses produk DPLK.

Produk yang dikeluarkan oleh DPLK ini aman, karena terikat peraturan tentang Dana Pensiun yaitu PMK no.50/PMK.10/2012 per 4 Oktober 2012, bahwa Saldo Dana Pensiun kurang dari Rp 625 juta dapat diambil secara lump-sum, sedangkan saldo Dana Pensiun lebih dari Rp 625 juta, max 20% dapat diambil lump-sum & min. 80% wajib dibelikan anuitas.

Kelebihan DPLK adalah kita bisa memilih kemana dana pensiun kita diinvestasikan, bisa ke Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Campuran, dan Reksadana Saham. Pembukaan awalnya pun cukup murah, beberapa bank hanya mensyaratkan Rp 100 ribu pada pembukaan awal, dan dilanjutkan Rp 100 ribu tiap bulan. Anda bisa memilih menggunakan metode Autodebet, dengan metode ini, tiap bulan dana akan dipotong secara langsung dari rekening Anda, bahkan jika rekening Anda sedang kosong, metode ini tidak akan memberikan Anda penalti. Mudah kan?

Lalu bagaimana perhitungannya?

Misal saja ya, Anda menyisihkan seribu rupiah per hari dari uang jajan. Dengan asumsi bahwa 1 tahun memiliki 365 hari, maka dalam setahun Anda akan punya uang Rp 365 ribu untuk diinvestasikan. Jika uang ini Anda investasikan pada reksadana yang memiliki return 20% selama 30 tahun, maka berpotensi terbentuk dana sebesar Rp 431.386.772,68. Bagaimana, menarik kan?

Itu hanya seribu sehari lho, bayangkan jika Anda mampu menyisihkan Rp 10 ribu per hari, maka tiap bulan Anda akan punya Rp 300 ribu untuk berinvestasi. Jika Anda investasikan pada reksadana dengan nilai return 20% selama 20 tahun, itu artinya dengan modal Rp 72 juta, Anda akan mendapatkan return Rp 948.443.811,-. Isn’t it fantastic? ;-)  

Kekurangan DPLK, kita hanya tahu bahwa dana pensiun kita diinvestasikan pada salah satu jenis Reksadana. Misal, saya memilih Reksadana Saham. Maka tidak ada penjelasan lebih lanjut pada saham perusahaan manakah, dana pensiun kita diinvestasikan. Kita harus “manut” pada Bank/ Sekuritas pemilik DPLK, kemana uang kita diinvestasikan.

Berbeda jika kita membeli reksadana saham secara murni lewat sekuritas atau bank, di dalam prospektus, kita bisa membaca dengan jelas, ke perusahaan apa saja uang kita diinvestasikan oleh Manajer Investasi.     

Ketiga, Penghasilan dari Aset Investasi. Jika Anda sudah punya JHT dan DPLK maka Anda tinggal selangkah lagi memiliki pensiun yang bahagia dan nyaman. Apa sih problema kita saat ini? Jawabannya adalah gaya hidup!

Bisa jadi, dengan gaya hidup kita saat ini, Dana Pensiun yang sudah kita siapkan tidak cukup untuk menunjang kesenangan kita. Oleh karena itu, kita wajib juga membuat dana pensiun tambahan dengan cara mengakumulasi asset investasi. Aset ini nantinya akan dijadikan asset produktif, yang nantinya dapat memberikan penghasilan pasif bagi Anda di hari tua.

Misal ya, di awal usia 30-an, Anda mulai rajin menyisihkan sekian rupiah dari gaji ke reksadana saham. Lalu, di usia 40-an, Anda mulai memiliki kemampuan untuk membeli asset produktif seperti rumah kost ataupun ditanamkan ke bisnis. Nah, dari asset produktif tersebut, Anda bisa mengharapkan adanya tambahan arus kas dari hasil sewa atau pun bagi hasil bisnis untuk menunjang gaya hidup Anda.

Ingat, apapun pilihan yang Anda buat, menjadi tua itu pasti. Tapi pensiun bahagia dan menjalani hari tua dengan kebebasan financial adalah pilihan.

Happy Investing!

Monday, June 16, 2014

Confession About My Money; Anita Yulianti


Anita Yulianti. Foto diambil di Pattaya Restoran Sleman DIY
Ini dia “June Winner” kita, namanya Nita. Saya pertama kali kenal Nita saat mengantri pemberkasan menjadi pegawai. Salah satu orang pertama yang saya kenal di pekerjaan saya.

Meski tidak pernah satu kantor, tapi karena bekerja di satu kompleks, kami sering sekali makan siang bersama saat sedang senggang. Karena sering bertemu dan mengobrol, maka saya pun mengajak Nita bergabung ke dalam group Arisan Emas Antam.     

Cewek Leo ini berulangtahun pada tanggal 29 Juli, lahir dan besar di daerah Cangkringan Sleman. Mengenyam pendidikan di SMA 6 Yogyakarta dan dilanjutkan ke S1 Tehnik Sipil UNS di Solo.

Berikut hasil obrolan singkat saya dengan Nita.

Kapan sih pertama kali dapat penghasilan dan uangnya untuk apa?

Penghasilan pertama ya, kalau uang beasiswa masuk penghasilan ga sih? Dulu jaman kuliah, aku dapat beasiswa, uangnya aku tabung dan untuk shopping. Huehehe ;-)

Lulus kuliah Juli 2008, wisuda September, terus Desember 2008 sudah diterima jadi PNS auditor. Gaji pertama rapelan, lupa jumlahnya, dulu uangnya aku belikan emas perhiasaan, waktu itu belum tahu tentang emas batangan, sisanya habis untuk traktir keluarga.

Dari uang penghasilan tersebut, berapa yang diinvestasikan?

Penghasilan pertama untuk membeli emas perhiasan. Gaji selanjutnya untuk tabungan. Selain itu untuk membeli Vario Pink dan tambahan membeli mobil Terios yang aku inginkan.

Jadi, semua gaji masuk ke tabungan? Wow! Lantas, bagaimana membiayai kebutuhan sehari-hari?

Awal masuk kerja target nabung Rp 1 juta per bulan, lalu naik Rp 1,5 juta per bulan, sekarang Rp 2 juta per bulan. Masuk tabungan semua, Rp 2 juta tiap bulan itu tidak boleh diutak-atik!

Dulu, dari uang tabungan bisa untuk membeli motor Vario Pink dan tambahan membeli mobil Terios, dan tetap ada sisa uang tabungan, yang jumlah minimalnya sudah aku tetapkan. Setelah target menabung terpenuhi, kebanyakan sisanya kupakai untuk kebutuhan sehari-hari. Aku suka beli komik, novel dan tentunya shopping.

Tapi kalau ada kebutuhan mendesak, uang tabungan aku pakai. Asal tetap masih di batas minimal saldo. Kadang aku masih sering tergoda pakai uang tabungan untuk beli novel atau sepatu. Godaan membeli sepatu bagus paling ga tahan. Dari semua godaan yang ada dari target menabung Rp 2 juta per bulan, kadang tinggal Rp 1 juta per bulan.

Lalu, saat ini penghasilannya untuk apa saja?

Dari gaji pokok hampir 100% tidak aku pakai. Uang dari gaji pokok aku tabung. Untuk keperluan sehari-hari, aku menggunakan uang dari honor yang aku terima. Wah, jadi ketahuan donk ya, berapa honorku ;-)

Mulai tahun ini, aku ikut prudential. Aku membayar iurannya dari uang pembinaan triwulanan. Jadi, untuk keperluan prudential, aku membayarnya 3 bulanan sekali langsung Rp 1,5 juta.  

Tiap bulan paling banyak uangmu habis untuk apa?

Untuk kebutuhan sehari-hari.

Aku juga punya kucing namanya Apple. Nah, untuk Apple, aku anggarkan Rp 500 ribu tiap bulan. Ini untuk keperluan Apple makan, pasir, grooming atau biaya ke dokter per bulan.
Kadang aku mandikan Apple sendiri, tidak ke salon. Jadi, anggaran Rp 500 ribu tidak habis tiap bulan, paling banyak habis Rp 300 ribu untuk makanan Apple dan pasirnya.

Uang untuk tabungan, biasanya disisihkan di awal bulan atau di akhir bulan?

Awal bulan. Tabungan dari gaji pokok. Target Rp 2 juta, meski kadang kalau banyak godaan dan banyak kebutuhan bisa hanya bersisa Rp 1 juta. Tapi awal bulan tetap aku usahakan untuk menabung Rp 2 juta. Sisa gaji pokok sekitar Rp 700 ribu untuk kebutuhan sehari-hari, kalau di tengah bulan dan akhir bulan dapat honor, barulah uangnya untuk beli kebutuhan lain dan hobby.

Kalau dapat honor banyak, uangnya bisa untuk nambah tabungan yang aku anggarkan untuk beli gadget atau apa pun yang ingin aku beli dan harganya lumayan.

Kenapa tabungannya tidak dimasukkan ke deposito saja?

Deposito tidak bisa diambil sewaktu-waktu. Kan kita tidak tahu, kapan ada kebutuhan mendesak. Asal kita tetap bisa memenuhi target uang simpanan kita, menabung biasa menurutku tidak apa-apa. Di bank yang aku cari adalah keamanan dalam menyimpan uang.

Kenapa tertarik ikut arisan emas? Kan sudah punya emas perhiasaan?

Ingin mencoba hal yang baru. Untuk mencari pengalaman saja, belajar tentang investasi yang lain. Emas perhiasaan kalau dilihat dari sisi investasi masih lebih untung emas batangan. Tetapi emas perhiasaan bisa dipakai untuk kondangan.

Bagaimana pengetahuanmu tentang dunia investasi?

Tidak tahu banyak. Sebatas investasi emas, tabungan dan investasi kesehatan, kalau reksadana kurang mengerti.

Menurutku investasi untuk masa depan itu penting sekali tapi jangan sampai kebutuhan saat ini tidak tercukupi karena investasi untuk masa depan, harus balance.

Di kantor, aku juga ikut arisan dengan iuran Rp 200 ribu per bulan. Aku ikut dua arisan di kantor.

Arisannya dapat apa?

Dapat uang. Buat ditunggu-tunggu tiap tanggal 1 ajah sih ;-)

Dikantor, aku juga ada tabungan yang bisa di ambil sekitar 2 minggu sebelum lebaran idul fitri.

Selain untuk belanja sepatu, punya tidak hobby yang menguras tabungan?

Belanja buku, novel dan komik. Baju dan tas juga.

Tapi tidak sampai menghabiskan 50% dari penghasilan kan?

Nggak-lah! Karena masih ada kebutuhan sehari-hari yang harus dicukupi.

Apa sih obsesimu ke depan?

Beli tanah, sekarang masih dalam rangka mencari yang cocok. Ingin S2 linkage ke Belanda, lewat jalur beasiswa, di sana fakultas tekniknya bagus, dan ingin juga piknik ke Jepang. Ya, didoakan saja diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Amiin.

*Anita Yulianti. Juni 2014. Pemenang ke-3 Arisan Emas Antam. Pemilik resmi akun Path @anitayulianti. Selamat Berkenalan ;-)

Monday, May 26, 2014

How Human Are You?; Mob Rules


Foto diambil di sini.
Ada sebuah acara di televisi kabel yang sangat saya sukai, acaranya berjudul “How Human Are You?”. Inti acara tersebut sebenarnya membandingkan antara “sifat alami” manusia yang se-tipe dengan sifat hewan. Percobaan ini ber-setting di Amerika Serikat, sebuah negri dengan budaya yang berbeda dari negri kita. Meski begitu, acara ini dianggap memiliki kredibilitas yang bagus, karena disiarkan oleh channel yang terpercaya, yaitu National Geographic.

Si pembuat acara menyajikan banyak data tentang kemiripan perilaku alami kita, manusia, dengan perilaku hewan. Tentu, kalau dipelajari lebih lanjut, manusia adalah gabungan dari seluruh perilaku hewan, meski memang hewan yang paling mirip dengan kita adalah keluarga kera.

Dalam salah satu tayangannya yang berjudul “Mob Rules”, acara ini membahas tentang bagaimana manusia dan hewan memiliki “pola” yang sama mengenai “kawanan” atau yang lebih sering kita sebut “hidup berkelompok”. Tentu ada banyak percobaan. Percobaan yang paling menarik adalah saat 20 orang dikumpulkan dan di “tes” perilakunya saat berhadapan dengan uang. 

Percobaannya begini: dari 20 orang tersebut, dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, terdiri dari 5 pasangan sahabat. Kelompok kedua, terdiri dari 5 pasangan stranger. Kepada kedua kelompok dibagikan 2 amplop uang. Amplop pertama berisi uang $ 2 dan amplop kedua berisi $ 200. Amplop tersebut dibagikan secara acak, sehingga masing-masing peserta tidak tahu mendapat amplop berisi uang berapa. 

Fokus utama pada percobaan ini adalah tanpa melihat apa isi amplop tersebut, apa reaksi dari masing-masing pasangan? Kesepakatan apa saja yang mereka buat?

Percobaan pada kelompok 1, yang terdiri dari 5 pasang sahabat. Hasilnya: sebelum membuka amplop, mereka membuat kesepakatan yang isinya, berapapun amplop uang yang mereka dapatkan, mereka berjanji membagi dua uang tersebut. 

Lalu bagaimana percobaan pada kelompok 2, yang terdiri dari 5 pasang orang asing? Pada kelompok ini, mereka membuat kesepakatan jelas, bahwa berapapun uang dalam amplop yang mereka dapatkan, maka isi amplop menjadi hak sepenuhnya bagi si penerima, tanpa harus berbagi dengan yang lain.

Pada kelompok 1, ke-5 pasangan berbagi uang dengan alasan yang mudah, “karena kau, sahabatku! Maka kubagi apapun yang kumiliki”. Ini adalah naluri yang sama dengan yang dimiliki oleh hewan. Tentu saja, karena hewan tidak mengenal uang, maka yang dibagi oleh hewan adalah makanan, hasil buruan. Kepada siapa para hewan membaginya? Tentu saja, hanya pada kelompok mereka. 

Kelompok ke-2, dari ke-5 pasang orang asing, hanya 1 pasang yang saling membagi uangnya. Ke-4 pasang yang lain, memilih kesepakatan tidak membagi isi amplop. Apakah ini normal? Tentu saja normal. Hewan secara alamiah tidak akan membagi “hasil buruan” pada kelompok lain, secara alamiah naluri mereka mengajarkan berebut buruan, bukan membaginya. 

Apapun hasil dari percobaan ini, kedua sifat ini menggambarkan sifat alami kita yang disebut “Mob Rules”.

Peserta percobaan adalah warga negara Amerika Serikat, warga yang terkenal individualis dibandingkan dengan negri kita yang lebih sosialis. Tapi benarkah itu membuat perbedaan? Karena inti dari acara ini adalah tentang kita yang berbagi “uang/ makanan/ hal penting” hanya pada keluarga-kawanan-komunitas kita, bukan pada orang asing. 

Pada dasarnya, penelitian tersebut ingin menyajikan sebuah fakta bahwa apa yang menjadi “sifat alami” kita ternyata juga dimiliki oleh hewan. Lantas, siapa yang mirip siapa? Kita yang mirip hewan, atau hewan yang mirip kita?

Jika kita berbagi “uang/ makanan/ hal penting” hanya pada keluarga-kawanan-komunitas kita, lantas apa bedanya kita dengan hewan? Bukankah hewan juga melakukan hal yang sama? 

Satu pasang stranger yang membagi uangnya, meski tidak saling mengenal, tidakkah itu yang membuat dia menjadi satu-satunya “manusia” dalam percobaan tersebut. Hanya dia satu-satunya yang memutus rantai, betapa miripnya kita dengan hewan.

Jadi, jika kalian berpikir berbagi uang atau makanan atau hal penting (missal: ilmu pengetahuan) hanya pada keluarga-kawanan-komunitas sudah cukup; jika kalian berpikir mencari nafkah untuk keluarga sudah cukup, maka sebaiknya pikirkan ini, “How Human Are You?”

Karena hewan pun membagi makanannya pada kawanannya, karena hewan pun mencari nafkah untuk keluarganya.

So, How Human Are You?

Tabik!
@pacarkecilku

*National Geographic Channel. How Human Are You? Mob Rules. Tayang awal April 2014.  

Monday, October 21, 2013

Si Parasit



Foto ini diambil di sebuah sungai di Siem Riep, Cambodia.

Sudahkah kalian membaca novel “Si Parasit Lajang” karya Ayu Utami? Novel ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada Februari 2013. Tapi jauh sebelumnya, novel Si Parasit Lajang telah diterbitkan pertama kali tahun 2003 oleh Penerbit Gagas Media.

Saya belum pernah membaca Si Parasit Lajang versi Gagas Media, jadi pasti tidak bisa membandingkan kedua buku tersebut. Yang pasti, dalam kata pengantarnya Si Parasit Lajang versi Gramedia, si penulis menjelaskan bahwa ada beberapa penambahan, sedikit pengurangan, serta penyesuaian artikel seturut jaman dengan susunan baru.

Si Parasit Lajang versi terbaru adalah novel yang berisi kumpulan tulisan lama Ayu Utami di majalah Jakarta-Jakarta dan djakarta! dari tahun 1999 hingga 2003, dilengkapi dengan beberapa tulisan yang baru ditulis sekitar September 2012 hingga Januari 2013.

Saya tidak berniat me-review buku ini, tidak, saya tidak memiliki kemampuan untuk me-review buku. Saya hanya tertarik pada ide “Parasit” dan “Lajang”. Meski si penulis, menggunakan kedua kata tersebut menjadi satu frase, tapi saya lebih suka memenggalnya.

Pertama, Parasit, kata ini mengacu pada Simbiosis Parasitisme. Dalam ilmu botani, parasit adalah tanaman yang dianggap merugikan, sudah numpang pada inangnya, tak mau ngapa-ngapain, terus minta makan gratis!

Kedua, Lajang, kata ini mengacu pada seseorang yang tidak menikah. Beberapa orang memilih menggunakan kata “belum menikah” untuk mendefinisikan kata Lajang, tapi si penulis (dengan gagahnya) memilih kata “tidak menikah”.

Barangkali, inilah yang membuat si penulis begitu kontroversial saat itu. Iya, saya bilang: “saat itu”. Tulisan pendek Si Parasit Lajang diterbitkan majalah djakarta! pada April 2001. Pada masa itu, tentu “ide” si penulis dianggap tidak sesuai dengan norma sosial, karena pada hakekatnya perempuan harus menikah (kecuali, tentu saja, pilihan hidup para Biarawan dan Biarawati).

Buat beberapa orang, buku ini menjadi sangat menarik karena si penulis memberi penjelasan tentang 10+1 Alasan (si penulis) untuk Tidak Kawin. Saya juga tertarik. Tentu bukan tertarik untuk ikut-ikutan tidak menikah, tapi tertarik bagaimana si penulis menjelaskan, dengan caranya sendiri, bahwa ada yang salah pada konstruksi sosial kita, yang memandang bahwa perempuan yang tidak menikah itu sebagai sesuatu yang “tidak sempurna” atau “cacat”.

Tentu saja, ada laki-laki Lajang, tapi sanksi sosial laki-laki yang melajang, sangat berbeda dengan perempuan yang melajang.

Buat saya pribadi, buku ini jauh lebih menarik karena si penulis menyebutkan dirinya sebagai benalu atau single parasite, karena menurut penulis, cuma “benalu” yang numpang di rumah orangtua, tak bayar listrik, pagi bermain, siang bekerja, malam menulis, tanpa mikir memberi makan anjing atau mencuci mobil (Si Parasit Lajang-hal. 27). Dengan alasan beberapa hal tersebut, si penulis mengklaim bahwa dirinya sendiri sebagai si Parasit Lajang.

Pertanyaannya adalah ada berapa orang yang memiliki gaya hidup semacam si penulis, yaitu si Parasit Lajang? Jawabannya: ini adalah gaya hidup yang saya, kamu, mereka, kalian, atau bahkan gaya hidup dari kita semua, celakanya, kebanyakan dari kita!

Ada berapa banyak perempuan yang karirnya maju, punya penghasilan besar, tapi hidupnya tetap jadi “parasit” bagi orangtuanya?

Atau fakta lain, yang lebih ngeri, ada berapa banyak perempuan yang tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan, tapi bergaya hidup mewah sehingga menjadi parasit bagi orangtuanya? 
Single Parasite pada awalnya adalah sebutan bagi perempuan Jepang yang karirnya maju, tidak menikah, numpang di rumah orangtua sehingga tidak perlu menyewa apartemen, tidak juga perlu mengurus rumah karena sudah ada si Ibu, tidak perlu mencukupi kebutuhan sebulan karena sudah ada si Ayah.
Si Parasit 

Barangkali, konsep keluarga Timur dan Barat memang berbeda. Konsep keluarga Timur (meskipun untuk ukuran Jepang yang maju) kedekatan keluarga adalah segalanya. Saking dekatnya, bahkan orangtua sering tidak tega jika si anak pindah rumah atau pindah ke apartemen, meskipun sebenarnya si anak mampu hidup mandiri sendiri. Kedekatan ini, menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan yang akhirnya menghasilkan ke-tidakmandiri-an si anak. Hasilnya adalah si Parasit Lajang.

Konsep keluarga Barat, barangkali jauh lebih “tega”. Buat keluarga Barat, kalau si anak sudah dewasa, ya artinya harus “tega” disuruh keluar dari rumah. Harus belajar mencari kerja, meskipun hanya sekedar tukang cuci piring di restoran. Pembelajarannya, bukan pada belajar cuci piring, tapi bahwa seseorang harus belajar dewasa. Dewasa artinya bertanggungjawab, termasuk bertanggungjawab memenuhi kebutuhan financial diri sendiri.

Itu sebabnya, dalam keluarga Barat, jika si anak sudah dewasa dan masih menumpang hidup di rumah orangtua, itu sangat memalukan. Prinsip mereka, boleh jadi Lajang tapi tidak boleh jadi Parasit!

Bagaimana dengan konsep keluarga di Negri kita?

Seperti umumnya di negri Timur, di Negri kita, ketergantungan anak pada orangtua sangat tinggi. Memang ada masa dimana anak “keluar” dari rumah. Itu adalah masa sekolah dan kuliah. Beberapa anak, bahkan meninggalkan rumah lebih awal, misalnya jika dimasukkan ke pesantren, semakin dini usia dimasukkan, ya semakin dini “belajar” konsep mandiri. 

Ada juga yang semenjak dini disekolahkan di kota lain, di pulau lain bahkan hingga di negri lain. Semakin jauh tempat bersekolah, artinya semakin jarang pula intensitas bertemu orangtuanya. Diharapkan, semakin jarang bertemu orangtua, maka tingkat ketergantungan akan semakin menurun, sehingga anak-anak belajar konsep mandiri. Inget ya, hanya “belajar” mandiri lho, bukan mandiri beneran. Soalnya jaman sekarang, fasilitas di pesantren atau di kost, terkadang jauh lebih mewah dari rumah sendiri, lengkap dengan para rewang yang siap membantu segala pekerjaan rumah tangga.

Apakah jika sudah sekolah jauh dari orangtua lantas tidak menjadi parasit? 

Belum tentu. Saya banyak bertemu dengan teman-teman yang sekolah jauh, menghabiskan banyak biaya, lantas pulang ke rumah orangtuanya, dan menjadi si Parasit Lajang dengan biaya hidup yang jauh lebih besar lagi di rumah!

Konsep “belajar” mandiri di pesantren atau kost, hanya akan berubah nama menjadi “mandiri” sesungguhnya, saat si anak belajar mencapai kebebasan financial-nya sendiri. Proses untuk mencapai kebebasan financial inilah, saya menyebut sebagai proses meninggalkan sisi parasit di diri kita masing-masing.

Untuk mencapai “kebebasan financial”, ada yang bekerja sambilan semenjak duduk dibangku kuliah, bahkan beberapa kenalan saya, sudah membuka usaha semenjak SMA. Beberapa teman, memang kemudian kembali ke rumah orangtuanya, tapi bukan sebagai parasit. Mereka kembali malah untuk membantu financial orangtuanya. Pada beberapa kasus, mereka kembali pulang ke rumah, karena memang tidak ada pilihan lain, misal: mereka anak tunggal, salah satu orangtua sudah meninggal sehingga harus ada yang merawat orangtua yang ditinggalkan, dan tidak ada yang mengurus rumah. Tentu, buat orang-orang seperti ini, saya tidak menyebut mereka dengan si Parasit Lajang. 

Laki-Laki Parasit Lajang

Ada berapa banyak laki-laki yang karirnya maju, punya penghasilan besar, tapi hidupnya tetap jadi “parasit” bagi orangtuanya? 

Atau fakta lain, yang lebih ngeri, ada berapa banyak laki-laki yang tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan, tapi bergaya hidup mewah sehingga menjadi parasit bagi orangtuanya? 

Iya, nampaknya saya ngelantur, karena konsep awal, si Parasit Lajang, hanya digunakan pada perempuan berpenghasilan tapi jadi parasit orangtuanya. Tapi bagaimana, kalau saya pinjam istilah itu untuk menyebut laki-laki yang bertipe si Parasit Lajang?

Saya ulangi lagi ya definisinya?
Single Parasite pada awalnya adalah sebutan bagi perempuan Jepang yang karirnya maju, tidak menikah, numpang di rumah orangtua sehingga tidak perlu menyewa apartemen, tidak juga perlu mengurus rumah karena sudah ada si Ibu, tidak perlu mencukupi kebutuhan sebulan karena sudah ada si Ayah.
Bagaimana kalau dirubah menjadi:
Single Parasite adalah sebutan bagi laki-laki yang karirnya maju, belum menikah, numpang di rumah orangtua sehingga tidak perlu menyewa apartemen, tidak juga perlu mengurus rumah karena sudah ada si Ibu, tidak perlu mencukupi kebutuhan sebulan karena sudah ada si Ayah.
Apakah di Jepang, banyak laki-laki yang jadi si Single Parasit? Jawabannya: tidak banyak, di negri itu lebih banyak perempuan yang jadi single parasite

Apakah di Indonesia, banyak laki-laki yang jadi si Single Parasit? Jawabannya: banyak!

Single Parasite - Multiple Parasite

Pendapat saya pribadi, selama si Parasit tetap Lajang, entah itu perempuan, entah itu laki-laki, selama orangtuanya mau ngopeni, ya tidak masalah. Persoalan yang muncul, hanyalah jika si Parasit tersebut tidak lagi Lajang. 

Kalau si Parasit Lajang adalah perempuan, terus nikah, dapat suami yang punya penghasilan besar, kan tidak jadi parasit lagi? Minimal tidak jadi parasit bagi orangtuanya lagi kan? ;-)

Kalau si Parasit Lajang adalah laki-laki, terus nikah, punya anak, dan tetap jadi parasit bagi orangtuanya, nah itu namanya Double Parasite!  

Nah, bayangkan kalau si Parasit Lajang adalah si laki-laki dan si perempuan, terus mereka menikah dan punya anak, dan tetap jadi parasit? Kira-kira namanya apa ya? Jawabannya: Multiple Parasite!

Parasit Kelas Menengah-Kebawah 

Saya membayangkan bahwa si Parasit Lajang dalam buku Ayu Utami adalah para lajang yang masuk di dalam kelas Menengah-Keatas, sehingga kalaupun mereka ber-transformasi menjadi Multiple Parasite, ya tetap saja mereka golongan Multiple Parasite Menengah-Keatas, yang punya orangtua tajir, yang hartanya tak bakal habis hingga tujuh turunan!  

Lantas bagaimana dengan si Parasit Lajang yang masuk ke dalam kelas Menengah-Kebawah?

Bayangkan cerita ini: 
Sepasang suami istri, si Ayah adalah buruh bangunan, si Ibu bekerja sebagai buruh cucian dari rumah ke rumah. Punya anak lima. Biaya sekolah tinggi. Anak laki-laki lulus SMA, dan anak perempuan “hanya” lulus SMP. 

Lulus sekolah si Laki-laki Sulung ikut membantu jadi buruh bangunan. Belum mampu membiayai hidupnya, kemudian si Sulung menikah, punya anak. Biaya susu yang mahal, membuat si Sulung bersama istri dan anaknya memilih tinggal bersama si Ayah-Ibu, yang tak perlu bayar uang kontrakan atau uang kost. 

Kemudian si Anak Laki-laki Kedua menikah, pengangguran, menikah dan punya anak. Sama seperti si Sulung, si Anak Kedua, juga tinggal bersama si Ayah-Ibu, karena dia tidak bisa menghidupi sendiri istri dan anaknya. 

Lalu, si Anak Laki-laki Ketiga, baru masuk SMA, dan menghamili pacarnya, terpaksa menikah di usia dini, dan lagi-lagi tinggal bersama si Ayah-Ibu, lengkap mengajak istri-anaknya. 
Bayangkan bagaimana si Ayah-Ibu yang awalnya hanya perlu menanggung 5 anak plus 2 dirinya, jadi harus memberi makan 13 perut di dalam rumahnya?   

Anak-anak ini, awalnya adalah Parasite Lajang Menengah-Kebawah, yang belum bisa membiayai hidupnya sendiri, kemudian ber-transformasi menjadi Multiple Parasite Menengah-Kebawah. Pernikahan dini, pernikahan di usia yang belum siap untuk berdikari, atau bahkan memang tidak dididik mandiri oleh orangtua, akhirnya membuat mereka menjadi parasit yang jauh lebih besar, jauh lebih rakus.

Beban financial terbesar kembali jatuh pada orangtua. Akhirnya, yang ada hanyalah Sharing of Poverty. Berbagi Kemiskinan. 

Makanan yang belum tentu kenyang untuk ber-7, harus dibagi menjadi 13 piring. Beban financial ini akan terus bertambah, seiring laju pertumbuhan dan pertambahan jumlah perut yang kudu diopeni di dalam rumah tersebut. Lantas bagaimana?

Solusinya ya cuma satu, anak-anak yang telah menikah berhenti jadi parasit! Tentu, meski sama-sama parasit, beban biaya hidup antara lajang dan menikah, pasti akan berbeda buat orangtua. 

Nah, kalau yang kelas ekonominya Menengah-Kebawah dituntut agar tidak jadi parasit, mosok para Lajang yang kelas Menengah-Keatas “diijinkan” jadi parasit? Tidak adil itu namanya. Diskriminatif!

Kalau memang mau berubah, kita harus berubah semua, bersama-sama! Jangan salahkan si Menengah-Kebawah, karena mereka hanya meniru si Menengah-Keatas. Jangan tuntut kami, si Menengah-Kebawah untuk berubah jadi mandiri, kalau si Menengah-Keatas hanya mengajarkan sifat hedonisme para parasit. Karena apapun kelasnya, kita tetap sama, kita adalah parasit yang menumpang pada inangnya, yaitu orangtua kita.

Si Lajang Parasit

Barangkali ini sindiran buat kita semua. Kalau “seorang” Ayu Utami, yang penulis terkenal saja mengaku parasit, bagaimana dengan kita? 

Apakah kita juga termasuk dalam kriteria Lajang yang numpang di rumah orangtua, tak bayar listrik, pagi bermain, siang bekerja, malam menulis, tanpa mikir memberi makan anjing atau mencuci mobil, tanpa mikir uang bensin, uang belanja makanan, iuran warga, dan mengganti genteng rumah yang bocor?

Kesimpulannya, boleh sih jadi Lajang, tapi jadi Parasit? Nanti dulu! 

Tabik!
@pacarkecilku
 
© Copyright 2013 pacarkecilku