Showing posts with label berbagi. Show all posts
Showing posts with label berbagi. Show all posts

Monday, July 7, 2014

Melek Finansial

Foto diambil di sini

Saat teman bercerita bahwa tempat kerjanya tidak menyediakan Dana Pensiun, saya bilang “jangan risau!”. Kita bisa membuat Dana Pensiun sendiri. Bukan hanya itu, dengan perencanaan keuangan yang tepat, bahkan Dana Pensiun pribadi bisa lebih tinggi imbal hasilnya daripada orang-orang yang sudah mendapatkan Dana Pensiun dari kantornya.

Jika Anda termasuk yang sudah mendapat Dana Pensiun dari kantor. Pertanyaannya, berapa prosen sih, alokasi Dana Pensiun yang diambil dari gaji Anda, jangan-jangan tidak sampai 10% dari penghasilan Anda. Ingat, Jamsostek hanya mengambil 2% persen dari gaji Anda untuk disimpan sebagai Dana Pensiun!

Lantas, bandingkan dengan besar pengeluaran Anda tiap bulan? Masih yakin, tidak ingin membuat Dana Pensiun pribadi? Anda yakin pada saat Anda pensiun, uang pensiun Anda akan mampu mencukupi gaya hidup Anda?

Bagaimana jika Anda wiraswasta dan memiliki beberapa karyawan? Karena Anda wiraswasta (atau pengusaha), saya yakin pemikiran Anda sudah maju ke depan di bandingkan saya dan teman-teman, tentunya Anda lebih pintar dari saya soal Investasi, tapi bagaimana dengan karyawan Anda? Saya sarankan, agar karyawan Anda juga “dididik” akan pentingnya Dana Pensiun, sehingga setidaknya, saat perusahaan Anda goyah, karyawan Anda akan tetap menjalani masa tua dengan tenang.

Untuk kalian yang masih kuliah? Tanya deh ke diri Anda, uang Rp 100 ribu tiap bulan, kalian habiskan untuk apa? Untuk ukuran kota Jogja, uang Rp 100 ribu saya habiskan untuk ke bioskop dan jajan. Habis!

Bagaimana jika mulai sekarang kita semua belajar “melek financial”, uang Rp 100 ribu yang habis dalam satu hari dihabiskan saja untuk investasi, satu bulan cukup seratus ribu rupiah. Lalu lihat hasilnya 3-5 tahun lagi, saat semua teman-teman sibuk melamar pekerjaan, uang yang kalian investasikan bisa dipakai untuk modal buka usaha. Keren kan!

Jadi, mau menikmati pensiun yang nyaman atau tua dengan terjerat kesulitan finansial? Itu semua tergantung pilihan Anda ;-) 

Happy Investing!

Monday, June 23, 2014

Pensiun Yang Bahagia



Foto diambil disini

Menjadi tua itu pasti. Tapi pensiun bahagia dan menjalani hari tua dengan kebebasan financial adalah pilihan.

Pernahkah Anda memiliki nasib yang sama dengan saya, disuruh orang tua untuk melamar pekerjaan di kantor-kantor yang memberikan uang pensiun, meski pekerjaan tersebut hanya menggaji anda sedikit. Jika Anda berkata “iya”, itu artinya kita senasib! Hihihi ;-)

Saya, dan beribu-ribu orang diluar sana, kebanyakan memang bekerja di sebuah tempat yang, konon, menjadi rebutan banyak orang karena disediakan fasilitas “Dana Pensiun”. Tentu saja, waktu itu saya masih sangat muda, bingung, tak punya pengalaman, dan buta pengetahuan financial. Tapi mari teman, kita akan belajar bersama agar kita semua “melek financial”.

Setiap ada teman yang bercerita tentang melamar kerja, saya selalu menyarankan satu hal, tanyakan tentang Dana Pensiun dan Dana Kesehatan. Tanyakan juga hak dan kewajiban terkait dua hal tersebut. Misalkan saja; setelah berapa tahun bisa mengajukan pensiun dini? Atau setelah berapa tahun, Dana Pensiun bisa dicairkan? 

Terdengar lucu ya? Tapi percayalah, di luar gaji bulanan, Dana Pensiun dan Dana Kesehatan adalah dua hal penting yang harus ditanyakan, karena kedua hal tersebut merupakan hak kita. Kantor yang baik tentunya bersikap kooperatif dan terbuka, karena Pensiun dan Kesehatan, pada dasarnya adalah hak kita.

Menurut Hukum Perburuhan kita, Dana Kesehatan itu sangat penting, terutama jika pekerjaan kita memiliki resiko kerja yang tinggi. Mengenai Dana Kesehatan, akan kita bahas pada tulisan lebih lanjut. Tulisan kali ini, hanya fokus pada Dana Pensiun.

Lantas bagaimana jika tempat kerja kita tidak menyediakan Dana Pensiun? Saran saya, sebaiknya kantor Anda menggaji dalam jumlah uang yang cukup besar tiap bulan. Jika tidak, pikirkan untuk mencari pekerjaan yang lain ;-)

Ada beberapa sumber penghasilan yang bisa membantu kita menyusun dana hari tua.

Pertama, Jaminan Hari Tua (JHT). Program Jaminan Hari Tua dikelola oleh Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Ini merupakan tabungan bagi para pekerja yang diatur oleh Pemerintah. Penghasilan kotor anda akan disisihkan sejumlah 5,7% yang iurannya dibayarkan oleh pemberi kerja (3,7%) dan anda sendiri (2%). Saldo JHT akan dikelola oleh Jamsostek dan diberikan bagi hasil setiap tahunnya setelah Anda pensiun.

Secara rata-rata, bagi hasil JHT adalah 2% di atas tingkat suku bunga deposito bank umum. Pada umumnya, dana pensiun Anda akan diinvestasikan pada reksadana Pasar Uang atau Reksadana Pendapatan Tetap. Bahkan sekitar tahun 2012, Jamsostek mengklaim dirinya mampu memberikan return 10% per tahun. Bagaimana, lumayan kan?

Eiiits, jangan senang dulu lho. Ada hal penting yang harus Anda pelajari, yaitu uang Anda akan tergerus inflasi 10% tiap tahun. Bagaimana, Anda masih yakin, bahwa Anda akan pensiun bahagia mengandalkan Dana Pensiun dari kantor, jika nilai return dari Dana Pensiun Anda tidak mampu mengalahkan inflasi?

Kedua, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Ada program investasi lain untuk masa pensiun Anda yaitu DPLK. Awalnya program ini hanya digunakan untuk karyawan di perusahaan. Dengan berkembangnya waktu, DPLK saat ini bersikap “terbuka” bagi perseorangan, sehingga kita secara perseorangan bisa turut serta mengakses produk DPLK.

Produk yang dikeluarkan oleh DPLK ini aman, karena terikat peraturan tentang Dana Pensiun yaitu PMK no.50/PMK.10/2012 per 4 Oktober 2012, bahwa Saldo Dana Pensiun kurang dari Rp 625 juta dapat diambil secara lump-sum, sedangkan saldo Dana Pensiun lebih dari Rp 625 juta, max 20% dapat diambil lump-sum & min. 80% wajib dibelikan anuitas.

Kelebihan DPLK adalah kita bisa memilih kemana dana pensiun kita diinvestasikan, bisa ke Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Campuran, dan Reksadana Saham. Pembukaan awalnya pun cukup murah, beberapa bank hanya mensyaratkan Rp 100 ribu pada pembukaan awal, dan dilanjutkan Rp 100 ribu tiap bulan. Anda bisa memilih menggunakan metode Autodebet, dengan metode ini, tiap bulan dana akan dipotong secara langsung dari rekening Anda, bahkan jika rekening Anda sedang kosong, metode ini tidak akan memberikan Anda penalti. Mudah kan?

Lalu bagaimana perhitungannya?

Misal saja ya, Anda menyisihkan seribu rupiah per hari dari uang jajan. Dengan asumsi bahwa 1 tahun memiliki 365 hari, maka dalam setahun Anda akan punya uang Rp 365 ribu untuk diinvestasikan. Jika uang ini Anda investasikan pada reksadana yang memiliki return 20% selama 30 tahun, maka berpotensi terbentuk dana sebesar Rp 431.386.772,68. Bagaimana, menarik kan?

Itu hanya seribu sehari lho, bayangkan jika Anda mampu menyisihkan Rp 10 ribu per hari, maka tiap bulan Anda akan punya Rp 300 ribu untuk berinvestasi. Jika Anda investasikan pada reksadana dengan nilai return 20% selama 20 tahun, itu artinya dengan modal Rp 72 juta, Anda akan mendapatkan return Rp 948.443.811,-. Isn’t it fantastic? ;-)  

Kekurangan DPLK, kita hanya tahu bahwa dana pensiun kita diinvestasikan pada salah satu jenis Reksadana. Misal, saya memilih Reksadana Saham. Maka tidak ada penjelasan lebih lanjut pada saham perusahaan manakah, dana pensiun kita diinvestasikan. Kita harus “manut” pada Bank/ Sekuritas pemilik DPLK, kemana uang kita diinvestasikan.

Berbeda jika kita membeli reksadana saham secara murni lewat sekuritas atau bank, di dalam prospektus, kita bisa membaca dengan jelas, ke perusahaan apa saja uang kita diinvestasikan oleh Manajer Investasi.     

Ketiga, Penghasilan dari Aset Investasi. Jika Anda sudah punya JHT dan DPLK maka Anda tinggal selangkah lagi memiliki pensiun yang bahagia dan nyaman. Apa sih problema kita saat ini? Jawabannya adalah gaya hidup!

Bisa jadi, dengan gaya hidup kita saat ini, Dana Pensiun yang sudah kita siapkan tidak cukup untuk menunjang kesenangan kita. Oleh karena itu, kita wajib juga membuat dana pensiun tambahan dengan cara mengakumulasi asset investasi. Aset ini nantinya akan dijadikan asset produktif, yang nantinya dapat memberikan penghasilan pasif bagi Anda di hari tua.

Misal ya, di awal usia 30-an, Anda mulai rajin menyisihkan sekian rupiah dari gaji ke reksadana saham. Lalu, di usia 40-an, Anda mulai memiliki kemampuan untuk membeli asset produktif seperti rumah kost ataupun ditanamkan ke bisnis. Nah, dari asset produktif tersebut, Anda bisa mengharapkan adanya tambahan arus kas dari hasil sewa atau pun bagi hasil bisnis untuk menunjang gaya hidup Anda.

Ingat, apapun pilihan yang Anda buat, menjadi tua itu pasti. Tapi pensiun bahagia dan menjalani hari tua dengan kebebasan financial adalah pilihan.

Happy Investing!

Monday, June 16, 2014

Confession About My Money; Anita Yulianti


Anita Yulianti. Foto diambil di Pattaya Restoran Sleman DIY
Ini dia “June Winner” kita, namanya Nita. Saya pertama kali kenal Nita saat mengantri pemberkasan menjadi pegawai. Salah satu orang pertama yang saya kenal di pekerjaan saya.

Meski tidak pernah satu kantor, tapi karena bekerja di satu kompleks, kami sering sekali makan siang bersama saat sedang senggang. Karena sering bertemu dan mengobrol, maka saya pun mengajak Nita bergabung ke dalam group Arisan Emas Antam.     

Cewek Leo ini berulangtahun pada tanggal 29 Juli, lahir dan besar di daerah Cangkringan Sleman. Mengenyam pendidikan di SMA 6 Yogyakarta dan dilanjutkan ke S1 Tehnik Sipil UNS di Solo.

Berikut hasil obrolan singkat saya dengan Nita.

Kapan sih pertama kali dapat penghasilan dan uangnya untuk apa?

Penghasilan pertama ya, kalau uang beasiswa masuk penghasilan ga sih? Dulu jaman kuliah, aku dapat beasiswa, uangnya aku tabung dan untuk shopping. Huehehe ;-)

Lulus kuliah Juli 2008, wisuda September, terus Desember 2008 sudah diterima jadi PNS auditor. Gaji pertama rapelan, lupa jumlahnya, dulu uangnya aku belikan emas perhiasaan, waktu itu belum tahu tentang emas batangan, sisanya habis untuk traktir keluarga.

Dari uang penghasilan tersebut, berapa yang diinvestasikan?

Penghasilan pertama untuk membeli emas perhiasan. Gaji selanjutnya untuk tabungan. Selain itu untuk membeli Vario Pink dan tambahan membeli mobil Terios yang aku inginkan.

Jadi, semua gaji masuk ke tabungan? Wow! Lantas, bagaimana membiayai kebutuhan sehari-hari?

Awal masuk kerja target nabung Rp 1 juta per bulan, lalu naik Rp 1,5 juta per bulan, sekarang Rp 2 juta per bulan. Masuk tabungan semua, Rp 2 juta tiap bulan itu tidak boleh diutak-atik!

Dulu, dari uang tabungan bisa untuk membeli motor Vario Pink dan tambahan membeli mobil Terios, dan tetap ada sisa uang tabungan, yang jumlah minimalnya sudah aku tetapkan. Setelah target menabung terpenuhi, kebanyakan sisanya kupakai untuk kebutuhan sehari-hari. Aku suka beli komik, novel dan tentunya shopping.

Tapi kalau ada kebutuhan mendesak, uang tabungan aku pakai. Asal tetap masih di batas minimal saldo. Kadang aku masih sering tergoda pakai uang tabungan untuk beli novel atau sepatu. Godaan membeli sepatu bagus paling ga tahan. Dari semua godaan yang ada dari target menabung Rp 2 juta per bulan, kadang tinggal Rp 1 juta per bulan.

Lalu, saat ini penghasilannya untuk apa saja?

Dari gaji pokok hampir 100% tidak aku pakai. Uang dari gaji pokok aku tabung. Untuk keperluan sehari-hari, aku menggunakan uang dari honor yang aku terima. Wah, jadi ketahuan donk ya, berapa honorku ;-)

Mulai tahun ini, aku ikut prudential. Aku membayar iurannya dari uang pembinaan triwulanan. Jadi, untuk keperluan prudential, aku membayarnya 3 bulanan sekali langsung Rp 1,5 juta.  

Tiap bulan paling banyak uangmu habis untuk apa?

Untuk kebutuhan sehari-hari.

Aku juga punya kucing namanya Apple. Nah, untuk Apple, aku anggarkan Rp 500 ribu tiap bulan. Ini untuk keperluan Apple makan, pasir, grooming atau biaya ke dokter per bulan.
Kadang aku mandikan Apple sendiri, tidak ke salon. Jadi, anggaran Rp 500 ribu tidak habis tiap bulan, paling banyak habis Rp 300 ribu untuk makanan Apple dan pasirnya.

Uang untuk tabungan, biasanya disisihkan di awal bulan atau di akhir bulan?

Awal bulan. Tabungan dari gaji pokok. Target Rp 2 juta, meski kadang kalau banyak godaan dan banyak kebutuhan bisa hanya bersisa Rp 1 juta. Tapi awal bulan tetap aku usahakan untuk menabung Rp 2 juta. Sisa gaji pokok sekitar Rp 700 ribu untuk kebutuhan sehari-hari, kalau di tengah bulan dan akhir bulan dapat honor, barulah uangnya untuk beli kebutuhan lain dan hobby.

Kalau dapat honor banyak, uangnya bisa untuk nambah tabungan yang aku anggarkan untuk beli gadget atau apa pun yang ingin aku beli dan harganya lumayan.

Kenapa tabungannya tidak dimasukkan ke deposito saja?

Deposito tidak bisa diambil sewaktu-waktu. Kan kita tidak tahu, kapan ada kebutuhan mendesak. Asal kita tetap bisa memenuhi target uang simpanan kita, menabung biasa menurutku tidak apa-apa. Di bank yang aku cari adalah keamanan dalam menyimpan uang.

Kenapa tertarik ikut arisan emas? Kan sudah punya emas perhiasaan?

Ingin mencoba hal yang baru. Untuk mencari pengalaman saja, belajar tentang investasi yang lain. Emas perhiasaan kalau dilihat dari sisi investasi masih lebih untung emas batangan. Tetapi emas perhiasaan bisa dipakai untuk kondangan.

Bagaimana pengetahuanmu tentang dunia investasi?

Tidak tahu banyak. Sebatas investasi emas, tabungan dan investasi kesehatan, kalau reksadana kurang mengerti.

Menurutku investasi untuk masa depan itu penting sekali tapi jangan sampai kebutuhan saat ini tidak tercukupi karena investasi untuk masa depan, harus balance.

Di kantor, aku juga ikut arisan dengan iuran Rp 200 ribu per bulan. Aku ikut dua arisan di kantor.

Arisannya dapat apa?

Dapat uang. Buat ditunggu-tunggu tiap tanggal 1 ajah sih ;-)

Dikantor, aku juga ada tabungan yang bisa di ambil sekitar 2 minggu sebelum lebaran idul fitri.

Selain untuk belanja sepatu, punya tidak hobby yang menguras tabungan?

Belanja buku, novel dan komik. Baju dan tas juga.

Tapi tidak sampai menghabiskan 50% dari penghasilan kan?

Nggak-lah! Karena masih ada kebutuhan sehari-hari yang harus dicukupi.

Apa sih obsesimu ke depan?

Beli tanah, sekarang masih dalam rangka mencari yang cocok. Ingin S2 linkage ke Belanda, lewat jalur beasiswa, di sana fakultas tekniknya bagus, dan ingin juga piknik ke Jepang. Ya, didoakan saja diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Amiin.

*Anita Yulianti. Juni 2014. Pemenang ke-3 Arisan Emas Antam. Pemilik resmi akun Path @anitayulianti. Selamat Berkenalan ;-)

Monday, June 9, 2014

Dana Pensiun


Foto di ambil disini.
Beberapa tahun yang lalu, saat saya baru beberapa bulan bekerja, saya berpikir tentang pensiun dini, atau setidaknya saya berpikir bahwa saya akan berhenti bekerja setelah menikah. Sejak timbul keinginan itu, saya pun mulai mencari tahu peraturan terkait pensiun dini. Setelah saya pelajari, saya baru tahu, di tempat saya bekerja, seseorang bisa mengajukan pensiun dini jika sudah mengabdi minimal 25 tahun, setelah itu hak uang pensiun barulah bisa “cair”. (Pada saat saya menulis ini, saya mendapat informasi tambahan, di tempat Chandra bekerja, uang pensiun akan cair jika sudah mengabdi 33 tahun).

Waktu itu saya membayangkan, “duh, ternyata untuk mengambil uang pensiun kok begitu lama dan sulit ya?”. Semenjak itu saya membaca banyak buku pengetahuan terkait Dana Pensiun.

Ada beberapa hal yang saya pelajari dan akan saya bagikan pada kalian.

Pada dasarnya Dana Pensiun adalah tabungan di hari tua. Apakah penting punya Dana Pensiun? Coba pikirkan ini. Bagi karyawan, umumnya pensiun di usia 55-60 tahun. Berdasarkan pengalaman beberapa teman kerja saya, uang pensiun akan habis rata-rata dalam jangka waktu 4-5 tahun, berapapun jumlahnya.

Lantas apa yang dilakukan? Pada umumnya, karyawan yang telah pensiun tersebut akan mencari pekerjaan baru atau beralih mencoba bisnis baru dengan alasan: menyambung hidup. Tapi pikirkanlah, jika Anda membangun bisnis baru di usia 55 tahun, tidakkah itu sudah sangat terlambat?

Saya pribadi, membayangkan masa pensiun dengan melakukan hal-hal yang saya sukai, misal; travelling ke negara lain, menulis artikel, mengajar, ngopi dengan teman dan santai di rumah. Saya tidak ingin saat saya tua menjadi beban bagi anak-anak saya, saya ingin menjadi nenek yang tetap senang-senang bersama anak dan cucu, bisa terus berzakat dan berkurban setiap tahun, dan hidup dengan nyaman.    

Tidakkah lebih menyenangkan jika di hari tua nanti kita hanya perlu mengisi waktu dengan pekerjaan yang kita cintai, tanpa perlu memikirkan bagaimana membayar tagihan bulan depan?

Menabung untuk Pensiun.

Waktu bercerita kegelisahan saya tentang hari tua, beberapa teman menyarankan untuk menabung. Nah, sekarang mari menghitung. Misalkan selama 15 tahun dari sekarang, saya rajin menabung Rp 1 juta di tabungan dengan target imbal hasil 5% per tahun, maka akan terbentuk saldo dana pensiun sebesar Rp 644 juta. Lumayan ya?

Tetapi dengan asumsi inflasi 10% per tahun, maka uang pensiun yang dapat saya tarik setiap bulan (hasil investasi & saldo pokok), untuk jangka 15 tahun semenjak pensiun hanyalah sebesar Rp 250 ribu nilai masa kini. Ini dengan asumsi, tabungan memiliki rata-rata return 4% per tahun. Padahal dalam kenyataannya, saat ini hanya return deposito yang mencapai 4% per tahun, sedangkan tabungan nilai returnnya di bawah return deposito.

Nah, bayangkan saja, kalau biaya hidup saya saat ini diatas Rp 2 juta, lalu bagaimana jika saya disuruh hidup dengan uang Rp 250 ribu per bulan. Sudah susah payah menyisihkan penghasilan, tapi tidak ada artinya di masa mendatang. Sia-sia donk ya.

Jadi kesimpulannya, Menabung untuk Pensiun? Pasti tidak Cukup!

Investasi untuk Hari Tua.

Investasi untuk hari tua yang saya maksud bukanlah memiliki anak, kemudian saat Anda tua, hidup Anda bergantung pada “kemurahan” hati anak-anak Anda. Saya yakin, bagi siapa saja yang pernah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, pastilah sangat sulit jika disuruh hidup sebagai “parasit”. Rasa ego Anda pasti membuat Anda selalu ingin memberi pada anak dan cucu, bukan diberi.

Investasi yang saya maksud adalah bagaimana jika dana yang Anda persiapkan untuk hari tua, bukan ditabung, tapi diinvestasikan pada produk keuangan seperti saham atau reksadana saham dengan target hasil 25% per tahun. Misalkan, selama 15 tahun dari sekarang, Anda rajin menabung Rp 1 juta di tabungan dengan target imbal hasil 25% per tahun, maka saldo dana pensiun Anda secara matematis akan menjadi Rp 19 M. Dari saldo ini, setiap bulan Anda dapat menarik uang pensiun sebesar Rp 7,5 juta nilai masa kini.

Saya tahu sekali, bahwa sebagian besar dari kita merasa bahwa masa pensiun adalah masa-masa yang sangat jauh dari bayangan. Rumah saja belum punya, kredit kendaraan belum lunas, kok mau memikirkan uang pensiun. Pensiun itu bukan artinya tidak melakukan apa-apa. Tapi, satu hal yang pasti adalah tidak ada satupun dari kita yang rela untuk terus-terusan bekerja demi memperoleh uang untuk menyambung hidup. Jika kita mau mandiri secara financial, ya kita harus memulainya dari sekarang.       

Jadi bagaimana, Anda mau menikmati pensiun yang berkualitas karena telah dipersiapkan atau pensiun dengan terjerat kesulitan finansial?

Happy Investing!

Monday, May 26, 2014

How Human Are You?; Mob Rules


Foto diambil di sini.
Ada sebuah acara di televisi kabel yang sangat saya sukai, acaranya berjudul “How Human Are You?”. Inti acara tersebut sebenarnya membandingkan antara “sifat alami” manusia yang se-tipe dengan sifat hewan. Percobaan ini ber-setting di Amerika Serikat, sebuah negri dengan budaya yang berbeda dari negri kita. Meski begitu, acara ini dianggap memiliki kredibilitas yang bagus, karena disiarkan oleh channel yang terpercaya, yaitu National Geographic.

Si pembuat acara menyajikan banyak data tentang kemiripan perilaku alami kita, manusia, dengan perilaku hewan. Tentu, kalau dipelajari lebih lanjut, manusia adalah gabungan dari seluruh perilaku hewan, meski memang hewan yang paling mirip dengan kita adalah keluarga kera.

Dalam salah satu tayangannya yang berjudul “Mob Rules”, acara ini membahas tentang bagaimana manusia dan hewan memiliki “pola” yang sama mengenai “kawanan” atau yang lebih sering kita sebut “hidup berkelompok”. Tentu ada banyak percobaan. Percobaan yang paling menarik adalah saat 20 orang dikumpulkan dan di “tes” perilakunya saat berhadapan dengan uang. 

Percobaannya begini: dari 20 orang tersebut, dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, terdiri dari 5 pasangan sahabat. Kelompok kedua, terdiri dari 5 pasangan stranger. Kepada kedua kelompok dibagikan 2 amplop uang. Amplop pertama berisi uang $ 2 dan amplop kedua berisi $ 200. Amplop tersebut dibagikan secara acak, sehingga masing-masing peserta tidak tahu mendapat amplop berisi uang berapa. 

Fokus utama pada percobaan ini adalah tanpa melihat apa isi amplop tersebut, apa reaksi dari masing-masing pasangan? Kesepakatan apa saja yang mereka buat?

Percobaan pada kelompok 1, yang terdiri dari 5 pasang sahabat. Hasilnya: sebelum membuka amplop, mereka membuat kesepakatan yang isinya, berapapun amplop uang yang mereka dapatkan, mereka berjanji membagi dua uang tersebut. 

Lalu bagaimana percobaan pada kelompok 2, yang terdiri dari 5 pasang orang asing? Pada kelompok ini, mereka membuat kesepakatan jelas, bahwa berapapun uang dalam amplop yang mereka dapatkan, maka isi amplop menjadi hak sepenuhnya bagi si penerima, tanpa harus berbagi dengan yang lain.

Pada kelompok 1, ke-5 pasangan berbagi uang dengan alasan yang mudah, “karena kau, sahabatku! Maka kubagi apapun yang kumiliki”. Ini adalah naluri yang sama dengan yang dimiliki oleh hewan. Tentu saja, karena hewan tidak mengenal uang, maka yang dibagi oleh hewan adalah makanan, hasil buruan. Kepada siapa para hewan membaginya? Tentu saja, hanya pada kelompok mereka. 

Kelompok ke-2, dari ke-5 pasang orang asing, hanya 1 pasang yang saling membagi uangnya. Ke-4 pasang yang lain, memilih kesepakatan tidak membagi isi amplop. Apakah ini normal? Tentu saja normal. Hewan secara alamiah tidak akan membagi “hasil buruan” pada kelompok lain, secara alamiah naluri mereka mengajarkan berebut buruan, bukan membaginya. 

Apapun hasil dari percobaan ini, kedua sifat ini menggambarkan sifat alami kita yang disebut “Mob Rules”.

Peserta percobaan adalah warga negara Amerika Serikat, warga yang terkenal individualis dibandingkan dengan negri kita yang lebih sosialis. Tapi benarkah itu membuat perbedaan? Karena inti dari acara ini adalah tentang kita yang berbagi “uang/ makanan/ hal penting” hanya pada keluarga-kawanan-komunitas kita, bukan pada orang asing. 

Pada dasarnya, penelitian tersebut ingin menyajikan sebuah fakta bahwa apa yang menjadi “sifat alami” kita ternyata juga dimiliki oleh hewan. Lantas, siapa yang mirip siapa? Kita yang mirip hewan, atau hewan yang mirip kita?

Jika kita berbagi “uang/ makanan/ hal penting” hanya pada keluarga-kawanan-komunitas kita, lantas apa bedanya kita dengan hewan? Bukankah hewan juga melakukan hal yang sama? 

Satu pasang stranger yang membagi uangnya, meski tidak saling mengenal, tidakkah itu yang membuat dia menjadi satu-satunya “manusia” dalam percobaan tersebut. Hanya dia satu-satunya yang memutus rantai, betapa miripnya kita dengan hewan.

Jadi, jika kalian berpikir berbagi uang atau makanan atau hal penting (missal: ilmu pengetahuan) hanya pada keluarga-kawanan-komunitas sudah cukup; jika kalian berpikir mencari nafkah untuk keluarga sudah cukup, maka sebaiknya pikirkan ini, “How Human Are You?”

Karena hewan pun membagi makanannya pada kawanannya, karena hewan pun mencari nafkah untuk keluarganya.

So, How Human Are You?

Tabik!
@pacarkecilku

*National Geographic Channel. How Human Are You? Mob Rules. Tayang awal April 2014.  
 
© Copyright 2013 pacarkecilku